Translate

Wednesday, 13 June 2012

6-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI . BAB 3, Cara-cara Mengamalkan Amalan batin

Sambungan Bab 3


Di sini akan saya huraikan cara-cara mujahadah terhadap penyakit hasad, dengki, pemarah dan gila dunia.

Sebelum itu akan dijelaskan bahwa dalam berusaha melawan nafsu itu, kita hendaklah menempuh tiga tingkat:

1.     Takhalli (Mengosongkan atau membuang atau membersihkan)
2.     Tahalli (Mengisi atau menghiasi)
3.     Tajalli (Terasa kebesaran dan kehebatan Allah)

1. Takhalli
Di tingkat takhalli kita mesti melawan dan membuang semua kehendak-kehendak nafsu yang rendah dan dilarang Allah. Selagi kita tidak mahu membenci, memusuhi dan membuangnya jauh-jauh dari diri kita, maka nafsu itu akan selalu menguasai dan menghambakan kita. 
Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sejahat-jahat musuhmu ialah nafsumu yang terletak di antara dua lambungmu.
(Riwayat Al Baihaqi)

Kerana kejahatannya itu telah banyak manusia yang ditipu dan diperdaya untuk tunduk, bertuhankan hawa nafsu. Itu  diceritakan oleh Allah dengan firman-Nya:
Terjemahannya: Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan lalu dia disesatkan Allah.
(Al Jaatsiah: 23)

Apabila nafsu dibiarkan menguasai hati, iman tidak memiliki tempat. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan yang sebenar-benarnya tetapi menyembah hawa nafsu.

Oleh itu usaha melawan hawa nafsu jangan dianggap ringan. Itu adalah satu jihad yang sangat besar. Ingatlah sabda Rasulullah SAW pada sahabat-sahabatnya ketika pulang dari satu medan peperangan:     
Terjemahannya: Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat bertanya, "Peperangan apakah itu?" Baginda berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu."
(Riwayat Al Baihaqi)

Melawan hawa nafsu sangat susah. Mungkin kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan boleh kita pegang, mudahlah kita menekan dan membunuhnya sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada di dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah dan menguasai seluruh tubuh kita. Kerana itu tanpa kesedaran dan kemahuan yang sungguh-sungguh kita pasti dikalahkan untuk diperalat sekehendaknya.

Seseorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik. Begitulah seterusnya hingga nafsu manusia itu benar-benar dapat ditundukkan kepada perintah Allah.

Untuk lebih jelas akan saya sebutkan tingkat-tingkat nafsu manusia sebagaimana iman itu pun bertingkat-tingkat. Saya sebutkan dari tingkat yang serendah-rendahnya iaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radhiah, nafsu mardhiah dan nafsu kamilah.

Kita yang berada pada tingkat iman ilmu, berada di taraf nafsu yang kedua yakni nafsu lawwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu hingga tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah. Paling minimal mencapai nafsu mulhamah dan nafsu mutmainnah, iaitu nafsu yang ada pada diri seseorang beriman ayan.

Di tingkat iman itu saja kita akan dapat menyelamatkan diri dari siksaan Neraka. Itu dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
Terjemahannya: Hai jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga-Ku. 
(Al Fajr 27-30)

Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia. Dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifat mazmumah. Di antara sifat-sifat mazmumah itu ialah sum’ah, riya', ujub, cinta dunia, gila pangkat, gila harta, banyak bicara, banyak makan dan mengumpat.

Sifat-sifat itu melekat pada hati seperti daki melekat pada badan. Kalau kita malas menggosok sifat itu akan semakin kuat dan menebal pada hati kita. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan kuat menggosoknya maka hati akan bersih dan jiwa akan suci.

Bagaimana pun membuang sifat mazmumah dari hati tidaklah semudah membuang daki di badan. Hal itu memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang terus menerus dan petunjuk yang berkesan dari guru yang mursyid yakni guru yang dapat membaca dan menyelami hati murid-muridnya hingga ia tahu apakah kekurangan dan kelebihan murid itu. Malangnya di akhir zaman ini, kita tidak memiliki guru yang mursyid.    

Nasib kita hari ini seperti nasib anak-anak ayam yang kehilangan pedoman. Tidak ada yang akan menunjukkan jalan kebaikan yang ingin kita tempuh. Meraba-rabalah kita dalam kegelapan.
Tetapi bagi orang yang mempunyai keinginan yang kuat untuk membersihkan jiwanya, ia tidak akan kecewa bila tidak ada orang yang boleh mendidik dan memimpinnya. Ia akan sanggup berusaha demi kesempurnaan diri dan hidupnya sendiri. 

2.     Tahalli
Tahalli bererti menghias, lawan kata bagi takhalli. Sesudah kita mujahadah yakni mengosongkan hati dari sifat terkeji atau mazmumah, kita mesti segera menghias hati dengan sifat-sifat terpuji atau mahmudah.

Supaya mudah difahami mari kita gambarkan hati kita sebagai sebuah mangkuk. Selama ini mangkuk itu berisi sifat-sifat mazmumah. Setelah kita mujahadah maka sifat itu keluar meninggalkan mangkuk kosong. Waktu itulah kita masukkan ke dalam mangkuk itu sifat mahmudah.

Di antara sifat-sifat mahmudah yang patut menghias hati kita ialah jujur, ikhlas, tawadhuk, amanah, taubat, bersangka baik, takut pada Allah, pemaaf, pemurah, syukur, zuhud, timbang rasa, redha, sabar, rajin, berani, lapang dada, lemah lembut, kasih sayang sesama mukmin, selalu ingat mati dan tawakal.

Untuk menghias hati dengan sifat mahmudah kita sangat memerlukan mujahadah. Saya tegaskan sekali lagi bahwa bila dalam tingkat mujahadah kita masih terasa berat dan susah, maknanya belum ada ketenangan dan kelezatan yang sebenarnya. Insya Allah kalau kita sungguh-sungguh, lama kelamaan akan beryatu dengan hati kita dan akan terasalah lazatnya.

Cara-cara mujahadah dalam tahalli sama seperti kita mujahadah untuk takhalli. Misalnya kita mahu mengisi hati dengan sifat pemurah, maka kita mujahadah dengan mengeluarkan harta atau barang kita terutama yang kita sukai dan sayangi untuk diberikan kepada yang memerlukan. Awalnya tentu terasa berat dan susah tetapi janganlah menyerah. Kita mesti melawan. Tanamkan dalam hati bagaimana orang-orang muqarrobin berebut untuk mendapat pahala sedekah.

Sayidatina Aisyah r.a. di waktu tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, beliau mencuba untuk mendapatkan hanya sebelah kurma untuk disedekahkan. Begitu besar keinginan mereka pada pahala dan rindu kepada Syurga. Mereka berlomba-lomba menyahut pertanyaan Allah SWT:
Terjemahannya: Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik nanti Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.
(Al Hadid: 11)

Setiap kali kita merasa sayang pada harta kita setiap itu pula kita mengeluarkannya. Insya Allah lama-kelamaan kita akan memiliki sifat pemurah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain seperti kasih sayang, berani, tawadhuk, pemaaf, zuhud dan semua sifat-sifat mahmudah yang lain perlu kita miliki. Untuk itu mesti bermujahadah. Jika tidak, iman akan ikut tiada sebab iman berdiri di atas sifat-sifat mahmudah.

3.     Tajalli
Sebagai hasil mujahadah dalam takhalli dan tahalli kita memperoleh tajalli iaitu sejenis perasaan yang datang sendiri tanpa memerlukan usaha lagi.
Agak sukar untuk ditulis apa erti tajalli sebenarnya, sebab merupakan sejenis perasaan (zauk) yang hanya mungkin difahamkan oleh orang-orang yang merasakannya. Seperti manisnya gula, tidak dapat digambarkan dengan tepat kecuali dengan merasakan sendiri gula tersebut.

Tajalli secara ringkas ialah perasaan tenteram, tenang dan bahagia. Hati seakan-akan terbuka, hidup, melihat dan merasa kehebatan Allah. Hati selalu teringat dan rindu pada Allah. Harapan dan pergantungan tidak pada selain Allah. Seluruh amal bakti adalah kerana dan untuk Allah semata-mata. Apa pun masalah hidup, dihadapi dengan tenang dan bahagia. Kesusahan apa pun tidak terasa dalam hidupnya sebab semua itu dirasakan sebagai pemberian dari kekasihnya, Allah SWT.

Akhirnya bagi orang-orang yang beriman, dunia ini sudah terasa bagai Syurga. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan sejati dan abadi iaitu kebahagiaan hati. Firman Allah: 

Terjemahannya: Hari kiamat iaitu hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna kecuali mereka yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera.
(Asy Syuara': 88-99)

Setelah kita menghuraikan tentang proses pembersihan hati, marilah kita melihat cara-cara untuk mujahadah terhadap beberapa penyakit hati. 

1.     HASAD DENGKI
Hampir semua orang dihinggapi penyakit hasad dengki. Cuma bezanya banyak atau sedikit, bertindak atau tidak. Bahkan ulama-ulama pun terkena penyakit itu bahkan lebih berat lagi. Hasad dengki membuat jiwanya menderita, kecewa dan sakit jiwa. Hatinya merasa tidak selamat di dunia apalagi di akhirat.

Hadits telah menceritakan tentang enam golongan manusia yang akan tercampak ke dalam Neraka dengan enam sebab. Salah satu dari mereka adalah ulama kerana hasadnya.
Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang hasad dengki dalam surah Muhammad:
Terjemahannya: Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki niscaya Kami tunjukkan mereka padamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan kamu.
(Muhammad: 29-30)

Tanda adanya hasad dengki dalam diri kita ialah apabila orang lain mendapat kejayaan, maka kita akan sakit hati dan bila orang lain mendapat bencana kita akan merasa senang. 
Bahaya hasad dengki adalah seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sesungguhnya hasad itu memakan amalan kebaikan seperti api memakan ranting kayu kering.

Bila kita saling hasad dengki, kita akan hina-menghina, fitnah-memfitnah, benci-membenci, dendam-mendendam, jahat sangka dan mengadu domba. Kesemuanya akan mendatangkan dosa-dosa dan menghapuskan kebaikkan lainnya.

Seseorang yang membiarkan dirinya berada dalam hasad dengki adalah penjahat dan perosak serta pemecah-belah persaudaraan antara manusia. Dia juga seorang yang paling biadab dengan Allah SWT. Sedar atau tidak, dia sebenarnya benci kepada Allah. Walau sebanyak apa pun solatnya, puasanya, hajinya dan hebat perjuangannya tetapi di sisi Allah tetaplah dia ahli Neraka.
Pernah sahabat-sahabat bertanya Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Sesungguhnya ada seorang wanita yang berpuasa siang harinya dan di malam harinya shalat tahajjud tetapi selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. Jawab baginda Rasulullah: "(Tidak ada kebaikan lagi baginya) dia adalah ahli Neraka."

Orang yang banyak bertahajjud dan berpuasa sunat pun masuk Neraka kerana hasad dengki, apalagi kita yang tidak bertahajjud, puasa sunat, masih cinta dengan hasad dengki dan umpat-mengumpat. 

Kalau betul kita beriman kepada Allah dan takut akan Neraka, insaflah akan kejahatan hati kita itu dan marilah kita memperbaikinya dengan melakukan mujahadatunnafsi.
Allah berfirman:
Terjemahannya: Hai orang yang beriman, janganlah satu kaum menghina kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang dihina) lebih baik dari mereka (yang menghina) dan janganlah pula wanita-wanita menghina wanita-wanita lain (kerana) boleh jadi wanita (yang dihina) itu lebih baik dari mereka (yang menghina) dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman (seperti hai fasik, kafir dan lain lain) dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
(Al Hujurat: 11)

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak prasangka. Sesungguhnya sebahagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.
(Al Hujurat: 12)

Begitulah pujukan Allah pada kita supaya kita tidak lagi hasad dengki, mengumpat dan buruk sangka.
Langkah-langkah yang mesti kita lakukan untuk mujahadah terhadap hasad dengki diantaranya ialah:
-   Setiap kali orang yang kita dengki itu memperoleh kejayaan,
     kita kunjungi dia untuk mengucapkan tahniah (selamat) dan
     bergembira bersamanya. Sebaliknya apabila orang itu
     mendapat bencana, kita kunjungi juga untuk mengucapkan
     takziah(turut berduka) dan ikut bersedih bersamanya.
-    Sanjung dan pujilah kebaikan dan keistimewaan orang yang
     kita hasad dengki itu di belakangnya dan kalau ada kesalahan
     dan keburukannya kita rahsiakan.
-    Selalu datang dan berilah hadiah kepada orang yang kita
     dengki itu.
-    Kalau ada orang mencuba menjatuhkan orang yang kita dengki
     itu, kita mesti membelanya. Jangan melayani orang atau
     syaitan yang hendak merosakkan mujahadah kita.
-    Berdoalah pada Allah SWT agar memudahkan kita mengubati
     penyakit dengki yang ada dalam diri kita itu.

Ingatlah selalu firman-Nya:
Terjemahannya: Dan mereka yang bermujahadah pada jalan Kami niscaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami itu.
(Al Ankabut: 69)

Timbulnya hasad dengki kita pada seseorang adalah kerana orang itu mempunyai keistimewaan dan kelebihan yang lebih daripada apa yang ada pada diri kita. Bila kita terasa orang itu telah mengalahkan kita dalam perjuangan atau perlombaan maka datanglah rasa dengki itu. Sebaliknya tidak akan terjadi begitu, kalau kita beriman dengan Allah, yakin akan keadilan-Nya mengatur pemberian kepada hamba-hamba-Nya, kita tidak akan merasa dengki lagi.
Firman Allah:
Terjemahannya: Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.
(An Nisa’: 32)

Allah yang melebihkan dan mengurangkan pemberian-Nya kepada seseorang. Dan Allah Maha Adil atas pemberian yang lebih dan kurang itu. Dia bermaksud menguji kita. Siapa yang sedar bahwa dirinya adalah hamba, ia akan senantiasa bersyukur pada nikmat yang diperoleh, redha dengan takdir dan sabar menghadapi ujian.
Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

Terjemahannya: Barangsiapa tidak redha terhadap takdir yang terjadi dan tidak sabar terhadap bala (cubaan) dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.
(Riwayat: At Tabrani)

Dalam Al Quran Allah berfirman:
Terjemahannya: Dialah yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu siapa antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(Al Mulk: 2)

Itulah maksud Allah menjadikan hidup yang sementara. 
Firman-Nya lagi:
Terjemahannya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setitis mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
(Al Insan: 2)

Kalau Allah melebihkan seseorang dari kita, ertinya Allah mahu menguji apakah kita sabar dan redha dengan kekurangan yang Allah takdirkan. Dan kalau Allah melebihkan kita daripada seseorang, ertinya Allah mahu menguji kita, apakah kita bersyukur terhadap nikmat itu atau sebaliknya sombong, bongkak, dan lupa diri sebagai hamba Allah.

Kalau begitu mengapa hasad dengki? Kalau kita masih hasad dengki ertinya kita tidak redha dengan Allah. Kita tidak senang dengan peraturan-Nya dan tidak menerima kehendak-Nya. Sebab itu orang yang hasad dengki bukan saja bermusuhan dengan orang lain tetapi juga bermusuhan dengan Allah. Biadab dengan manusia dan biadab dengan Allah maka layaklah menjadi ahli Neraka.

2.     PEMARAH
Sifat pemarah berasal dari sifat sombong (ego). Semakin besar ego seseorang itu semakin besar pemarahnya. Itu berkaitan pula dengan kedudukan seseorang.

Kalau tinggi kedudukannya, besar pangkatnya, banyak hartanya, ramai pengikutnya maka makin tinggi egonya dan pemarahnya makin menjadi-jadi. Sebaliknya seseorang yang rendah taraf kedudukannya akan kurang rasa egonya, maka kurang juga sifat pemarahnya.

Lihatlah perbezaan antara seorang ayah dengan anaknya. Jarang kita dengar bahwa anak memarahi ayah. Yang selalu terjadi adalah ayah memarahi anak. Atau antara tuan rumah dengan pembantunya. Tidak pernah pembantu marah pada tuannya tetapi tuan sering marah pada pembantunya. Atau seperti murid dengan guru. Murid tidak pernah marah pada gurunya tetapi guru sering marah pada muridnya.

Sebagai contoh yang lain, ketua pejabat dengan pegawainya. Jarang pegawai marah pada 'boss'nya tetapi boss sering marah pada anak buahnya. Begitulah seterusnya. Jarang kita temui seorang ayah, guru, ketua pejabat, tuan rumah dan seorang pemimpin yang tidak bersifat pemarah terhadap orang-orang di bawah mereka.

Pendeknya sifat pemarah itu ada pada setiap diri kita seperti halnya hasad dengki. Pemarah adalah sifat mazmumah yakni sifat terkeji. Pemarah boleh memecah-belahkan hati manusia. Sebab itu seorang yang pemarah adalah seorang yang biadab terhadap Allah SWT.

Kenapa mesti marah? Cuba kita renungkan sebuah syair gubahan seorang mujahid:
Takdir Allah sudah putus dan keputusan Allah sudah terjadi. Istirihatkan hati dari kata-kata 'barangkali' dan 'kalau'.

Setiap kesalahan dan kelemahan manusia pada kita adalah ujian Allah untuk kita. Allah mahu melihat siapa yang mampu menahan rasa malunya kepada Allah sambil mengucapkan,"Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun." Mari kita lihat bagaimana tindakan seorang mukmin sejati terhadap takdir-takdir buruk yang menimpa hidupnya:

Ahnaf bin Qais adalah seorang yang lemah lembut. Beliau ditanya orang, dengan siapakah beliau belajar berlemah lembut itu? 
Ahnaf menjawab: Dengan Qais bin Asim, iaitu pada suatu hari ketika Qais bin Asim sedang beristirahat masuklah jariahnya (hamba) membawakan Qais panggang besi berisi daging panggang yang masih panas. Belum sempat diletakkan di depan Qais tanpa sengaja besi pemanggang itu jatuh menimpa anak kecil Qais. Anak itu menjerit-jerit  kesakitan dan kepanasan hingga meninggal dunia. 

Qais dengan tenang melihat kejadian yang menyayat hati itu dan berkata kepada hamba yang pucat mukanya, "Aku bukan saja tidak marah kepada kamu, tetapi mulai hari ini aku memerdekakan kamu." 
"Begitulah sopan santun dan lemah lembutnya Qais bin Asim," kata Ahnaf bin Qais mengakhirkan ceritanya.

Bukannya Qais tidak sayang pada anaknya tetapi hatinya senantiasa melihat pengaturan Allah dan senantiasa merasakan setiap kejadian adalah takdir dari Allah. Ia senantiasa sabar dengan Allah, redha dengan Allah serta merasa kehambaan pada Allah. Rasa malu, hina dan takut dengan kekuasaan Allah membuat Qais tenang menghadapi kematian anak yang disebabkan kelalaian hambanya.

Hati Qais memandang kejadian itu sebagai ujian Allah ke atas dirinya. Barangkali untuk penghapusan dosa atau untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Kerana itu hatinya tenang. Dia (Qais) redha dengan ujian itu malah dengan ujian itu ia merasakan mendapat peluang untuk mendekatkan lagi hatinya pada Allah SWT. Sebab itu dia tidak nampak lagi kesalahan hambanya.
Bukan saja dia tidak marah bahkan merasa kasihan pada jariah yang ketakutan itu, memaksa Qais untuk membebaskan hambanya. Dia hanya nampak ketentuan Allah yang wajib diterima tanpa tanya jawab (alasan) dan tanpa 'kalau' lagi. Demikianlah rasa kehambaan yang menghias hati dan roh Qais, seorang yang cukup berakhlak terhadap Allah SWT dan terhadap manusia (hambanya).
Demikianlah rasa marah itu lahir dari perasaan 'ketuanan' yang ada dalam hati kita. Kita merasa kita yang lebih besar,  lebih mulia, lebih hebat dari orang lain. Tanpa perasaan-perasaan itu tidak mungkin kita menjadi pemarah. Kita akan berlemah lembut, memaafkan kesalahan orang dan bertimbang rasa dengan sesama manusia.

 Sesama manusia mempunyai asal yang sama. Kita datang ke dunia melalui jalan yang gelap, lubang kencing yang hina tanpa sedikitpun harta, dalam keadaan busuk, amis, bodoh, dungu, tuli, bisu, buta, lemah dan hina sekali. 
Firman Allah:
Terjemahannya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Moga-moga kamu bersyukur.
(An Nahl: 78)

Kemudian Allah juga mencantikkan kita dan memberi sedikit kelebihan. Kepandaian dan keistimewaan itu Allah pinjamkan sebentar saja. Tujuannya supaya kita dapat beribadah dan berbakti menurut kehendak-Nya (bersyukur). Bukan supaya kita merasa lebih mulia, lebih hebat, hingga datang perasaan-perasaan sombong, riya', bengis dan pemarah kepada orang lain yang agak kurang dari kita.

Sebaiknya  bila kita merasa mempunyai kelebihan, kita menjadi takut pada Allah. Takut kalau nikmat itu digunakan secara salah sehingga derhaka kepada Allah Taala dan berdosa pada manusia. Takut kalau nikmat itu menjadikan hati kita merasa 'tuan' sehingga timbul sifat ego yang besar,  yang akan melahirkan bermacam-macam mazmumah yang sangat dibenci oleh Allah. Firman-Nya:
Terjemahannya: Dalam hati mereka terdapat penyakit kemudian Allah tambahkan penyakit mereka.
(Al Baqarah: 10)

Kita mesti mengubati penyakit hati kita. Ertinya kita mesti membuang rasa 'ketuanan' kita iaitu dengan melakukan mujahadatunnafsi.

1. Mula-mula kita mesti rasa malu kepada Allah. Perbandingannya adalah kalau ada orang penting di rumah kita, sanggupkah kita memarahi isteri kita di depan orang itu? Tentu tidak. Terlebih lagi terhadap Allah, kerana Allah senantiasa melihat bahkan senantiasa bersama kita.
Kalau kita yakin akan hal itu tentu kita tidak akan menjadi pemarah sebab kita tahu Allah tidak suka kita menjadi pemarah. Rasa malu dan takut kepada Allah akan membuat kita senantiasa berlemah-lembut dan memaafkan kesalahan orang kepada kita.

2. Bila datang rasa hendak marah, maka katakan pada diri kita,"Ya Allah, aku tahu pemarah itu adalah hina di sisiMu. Tolonglah pelihara diriku dari kejahatan nafsu dan selamatkan aku dari api Neraka."

3. Sesudah itu kita diam. Jangan marah tetapi banyakkan zikir dan ingat kebesaran Allah. Allah Tuhan yang Maha Besar itu pun bersifat sangat pemaaf. Kalau begitu layakkah kita menjadi pemarah? Bukankah kita hamba yang hina dina?

4. Kita harus insaf bahwa setiap manusia termasuk diri kita sendiri, memiliki kelemahan dan kekurangan. Kalau hari ini orang bersalah pada kita, maka tidak mustahil bahwa satu saat nanti kita akan bersalah dengan orang lain.
Kalau kita bersalah kita tidak suka orang lain memarahi kita. Begitulah juga kalau orang lain yang bersalah dengan kita, dia tentu tidak suka kalau dimarahi. Karena itu tegurlah dengan lemah lembut dan kasih sayang. 

Firman Allah: 
Terjemahannya: Maka katakanlah (hai Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat dan takut
(Thaha: 44)

Sebegitu jahat dan kufurnya Firaun terhadap Allah, namun Allah masih perintahkan kepada Nabi-Nya supaya berlemah lembut. Sebab hanya dengan lemah lembut, hati manusia menjadi lembut, insaf dan takut.

Sebaliknya kalau kita kasar bukan saja orang yang lain tidak menerima teguran kita bahkan dia akan benci dengan kekerasan kita. Di sisi Allah kekerasan kita akan tercatat. Dan di sisi Allah kita akan tercatat sebagai orang yang tidak berakhlak dan tidak berhikmah, padahal Allah memerintahkan kita supaya berhikmah:
Terjemahannya: Serulah (semua manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan pengajaran yang baik dan berhujjahlah dengan mereka secara yang paling baik.
(An Nahl: 125)

3.     GILA DUNIA
Gila dunia adalah penyakit hati atau satu mazmumah yang menghalangi kita untuk mendekatkan hati dengan Allah (yakni menghalang untuk mencapai darjat kerohanian yang tinggi).
Seorang pencinta dunia adalah seorang yang hatinya dipenuhi keinginan untuk meluaskan serta memperbanyak ketinggian dan kekayaan di dunia sehingga fikirannya senantiasa bekerja untuk tujuan itu dan secara lahir ia bekerja keras untuk itu.

(Dunia ialah segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk Akhirat. Sebaliknya perkara apa saja yang boleh digunakan untuk akhirat maka  tidak lagi disebut dunia).

Lawan dari penyakit gila dunia adalah sifat zuhud yaitu hati yang tidak memiliki keinginan kepada sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. 
Firman Allah:
Terjemahannya: Itulah negara Akhirat (syurga) yang Aku jadikan (syurga itu) untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian dan kerusakan di muka bumi ini.
(Al Qashash: 83)

Hati yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi 'tuan' dan tidak pula ingin untuk melakukan kejahatan (kerosakan) di dunia, itulah hati yang selamat dan itulah hati penghuni syurga. 
Firman Allah:
Hari Qiamat (hari manusia meninggalkan dunia) adalah hari di mana harta dan anak-anak tiada memberi manfaat kecuali mereka yang datang menghadap Allah membawa hati yang selamat.
(Asy Syuara’: 88-89)

Mungkin kita bertanya,"Bagaimana saya bisa membuang keinginan kepada dunia yang indah?" Sebab kita hidup di kelilingi oleh tarikan dunia yang amat menarik dan hati kita pun sangat cinta padanya? 

Pertama, ketahuilah bahwa di dunia ini ada yang diharamkan dan wajib kita jauhi. Selain itu ada  yang dihalalkan dan tidak berdosa kalau diambil asalkan tidak berlebih-lebihan atau lebih dari keperluan.

Rasulullah SAW pernah menyatakan benci kepada dunia, karena dua perkara. 
Sabda baginda:
Terjemahannya:  Halalnya akan dihisab dan haramnya disiksa (dalam Neraka).

Satu hari ketika baginda berjalan bersama sahabat-sahabat, terlihat oleh Rasulullah  seekor bangkai kambing. Baginda bertanya kepada sahabat, "Mengapa bangkai itu dibuang oleh tuannya?"
Sahabat menjawab, "Kerana ia tidak berguna lagi maka ia dibuang dan tidak dihiraukan oleh tuannya."

Maka bersabda Rasulullah SAW:
"Demi Allah yang menguasai diriku, maka dunia itu lebih rendah pada pandangan Allah daripada bangkai kambing pada pandangan tuannya."

Seterusnya baginda bersabda:
"Dunia itu terkutuk dan terkutuk pula apa-apa yang ada di dalamnya kecuali yang digunakan untuk mencari keredhaan Allah."

Kerana itu ketahuilah bahwa mengambil dunia lebih dari keperluan atau bukan untuk mencari keredhaan Allah adalah tidak sunnah hukumnya. Dunia akan menjadi hijab antara kita dengan Allah yakni akan membutakan hati dan memisahkan kita dari Allah.

Bagi orang yang menyedari hakikat itu tentu mereka tidak cinta lagi kepada dunia. Dunia yang nampaknya indah itu ternyata buruk sifatnya. Ibarat bunga hiasan plastik, rupa dan warnanya sungguh menarik hati tetapi tidak ada baunya. Atau ibarat perempuan cantik yang jahat tingkah lakunya tentu tidak ada gunanya.

Sebagai orang awam yang tidak kenal sifat dunia ini, tentu kecantikan dunia akan menawan hati kita. Tetapi bagi bijak pandai, iaitu orang-orang arif seperti Nabi dan Rasul, para muqarrobin dan solihin, mereka sangat kenal pada dunia ini, terutama tentang keburukan dan kehinaannya. Sebab itu mereka zuhud terhadapnya. Mereka mengambil sebagian dari dunia, yaitu yang tidak boleh tidak mesti diambil. Selebihnya adalah seperti najis pada mereka, sebab itu mereka membuangnya.

Tugas kita sekarang adalah mujahadah dengan nafsu gila dunia itu. Kita lawan keinginan rendah itu hingga ia tewas. Barulah keinginan kita kepada Allah dan hari Akhirat akan timbul dan menyala dalam dada kita.

Langkah-langkah yang perlu diambil antaranya: 
-     Harta, wang, pakaian, makanan, kenderaan, tempat tempat
     tinggal dan lain-lain kekayaan kita yang halal, yang kita
     letakkan di bank selama ini hendaklah kita gunakan untuk
     mencari keredhaan Allah.
-   Kedudukan kita, jabatan, pangkat, nama yang masyhur,
     pengaruh dan ketinggian apa saja yang memungkinkan kita
     merasa 'tuan' di dunia ini hendaklah digunakan untuk
     mencari keredhaan Allah, baik untuk menegakkan hukum
     Allah, menggiatkan dakwah Islamiah, berlaku adil dan ikhlas
     dalam mengatur kegiatan dakwah serta membuka peluang-
    peluang untuk Islam dan umatnya.
-    Hentikan dari usaha-usaha mencari kekayaan dan ketinggian
     dunia hanya karena keindahan duniawi tetapi arahkan usaha
     itu kepada agama Allah untuk negara Akhirat yang kekal
     abadi.
-     Bagikan isi dunia yang datang pada kita untuk hamba-hamba
     Allah yang lebih memerlukannya.
-    Kosongkan hati kita dari keinginan kepada kekayaan dan
     ketinggian duniawi.
-    Mohonlah selalu hidayah dan taufik dari Allah agar kita
     menjadi seorang yang zahid yang berilmu, menolak dunia
     kerana Allah sebagaimana telah yang disunnahkan oleh
     junjungan mulia Muhammad SAW.

Sabda baginda: 
Dua rakaat solat seorang alim yang hatinya zuhud lebih baik dan lebih disukai Allah dari ibadah orang-orang abid yang dilakukan selama umur dunia kerana ibadah tanpa ilmu tiada bernilai.

Firman Allah SWT:
Terjemahannya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia berbagai keinginan kepada wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (Syurga).

    Katakanlah, mahukah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu. Untuk orang-orang yang bertaqwa terhadap Tuhan mereka ialah Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta mendapat keredhaan Allah dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

    Mereka itu selalu berdoa, "Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah beriman maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka."
(Ali Imran: 14-16)

Bersabda Rasulullah SAW maksudnya:
Sesungguhnya Allah suka memberi keduniaan dengan sebab amalan Akhirat tetapi kalau amalnya khusus untuk dunia maka tidak akan diberi Akhirat.


1 comment: