SELAMAT DATANG KE ARENA WANGIAN IDAMAN ALAF INI...... SUMBER INSPIRASI SPIRITUAL..... EKSKLUSIF UNTUK SEMUA..... DI MANA-MANA DAN BILA-BILA... "Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah...yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan. Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" : Al-'Alaq (3-5)
Translate
Wednesday, 13 June 2012
5-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI . BAB 3, Cara-cara Mengamalkan Amalan batin
Bab 3
Cara-cara mengamalkan amalan batin
SETELAH kita mengetahui erti dan maksud amalan batin (hakikat) maka marilah kita mempelajari cara-cara mendapatkan hakikat. Mudah-mudahan dengan mengetahui hal tersebut kita dapat beramal dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya.
Untuk mendapatkan hakikat kita mesti melatih roh kita supaya taat pada Allah. Jasad batin (roh) kita waktu masih berada di alam roh, yakni sebelum dimasukkan ke dalam sangkarnya (jasad lahir) memang sudah mengenal Allah, seperti dalam firman-Nya:
Terjemahannya: (Allah bertanya pada roh) "Bukankah Aku Tuhanmu?". Roh menjawab: Ya, kami akui Engkaulah Tuhan kami.
(Al ‘Araaf: 172)
Sebelum masuk ke badan kita roh sudah mengenal Allah, bahkan sudah menyaksikan ketuhanan Allah dan sudah mengaku kehambaan pada Allah. Tetapi ketika dilahirkan ke dunia, roh dikurung dalam jasad lahir bersama-sama musuhnya nafsu dan syaitan. Tentang nafsu, Allah SWT berfirman:
Terjemahannya: Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.
(Yusuf: 53)
Dan Nabi pula bersabda:
Terjemahannya: Sejahat-jahat musuhmu ialah nafsumu yang terletak di antara dua lambungmu.
(Riwayat Al Baihaqi)
Sedangkan tentang syaitan, Allah berfirman:
Terjemahannya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
(Yusuf: 5)
Berhadapan dengan dua musuh batin itu, roh menjadi lemah (rosak atau hilang rasa kehambaan). Walaupun dia sudah mengenal Allah SWT, tahu wujud dan Maha Perkasanya Allah, tetapi roh tidak boleh mentaati perintah Allah. Pujukan serta tarikan syaitan dan hawa nafsu lebih kuat dan berpengaruh.
Roh sudah derhaka pada Tuhan, seakan-akan sudah tidak kenal Tuhan. Roh terbelenggu dalam jasad, dikongkong oleh nafsu dan syaitan itu. Roh sudah tidak takut dan tidak malu lagi pada Tuhan. Roh tidak rindu dan tidak cinta lagi pada Tuhan, tidak merasa hina dan rendah diri serta bersifat ketuanan. Roh sudah sombong, keras, hasad dengki, tamak, pendendam, bakhil, gila dunia, kuat makan, banyak tidur dan lain-lain, menyerupai kehendak nafsu yang terkutuk itu. Roh sudah dikuasai oleh jasad lahir yang beku (bersifat seperti tanah kerana dicipta dari tanah).
Laksana burung, roh terkurung dalam sangkar. Kerana sangkar itu kuat maka burung terpaksa terkurung di dalam sangkar yang sempit dan menyiksa. Sebaliknya kalau burung lebih kuat dari sangkar, burung akan dapat memecahkan sangkar dan dapat terbang bebas ke seluruh alam. Demikianlah kalau roh kita lebih kuat dari nafsu dan syaitan, roh dapat menundukkan nafsu dan syaitan. Saat itu bukan jasad lagi yang menguasai roh tetapi roh yang menguasai jasad lahir. Roh akan bebas melakukan kehendaknya mentaati perintah Allah SWT. Roh akan terbang bebas kemana-mana dan dapat merasakan perkara-perkara gaib.
Itulah yang terjadi pada roh para Nabi, Rasul dan wali-wali Allah. Roh tidak lagi dibelenggu dalam jasad lahir oleh nafsu dan syaitan tetapi sudah bebas, sudah dapat menundukkan nafsu dan syaitan di bawah kehendaknya. Sudah melihat alam rohani, alam malakut dan alam jin. Jasad lahir tidak bererti apa-apa lagi kerana sudah dikuasai oleh roh untuk menyembah Allah sepanjang masa.
Lain halnya dengan jasad lahir, roh bukan dibuat dari tanah tetapi dari nur (cahaya) yang serupa dengan malaikat dan jin. Sebab itu roh yang sudah bebas dari kungkungan nafsu dan syaitan akan bergerak bebas seperti cahaya, tembus di setiap ruang dan bidang. Pandangan roh adalah pandangan tembus yang dapat membaca hati dan batin manusia. Kerana itu bersabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Takutilah Firasat (pandang tembus) orang Mukmin kerana ia memandang dengan cahaya Allah.
(Riwayat At Tarmizi)
Itulah rahsia diri kita yang mesti kita sedari. Bila kita sedar hakikat kejadian kita itu, barulah akan terjadi apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Barangsiapa yang kenal dirinya, maka dia pasti kenal Tuhannya.
Untuk meningkatkan diri mencapai darjat yang mulia itu, kita mesti berusaha bersungguh-sungguh, berjuang dan berkorban. Siapa saja dapat berhasil kalau memenuhi syarat dan cara yang telah ditetapkan iaitu dengan mendidik roh kita kembali untuk mengenal dan mencintai Allah SWT. Caranya adalah mujahadah (berperang) dengan nafsu dan syaitan. Allah berfirman:
Terjemahannya: Wahai orang-orang yang beriman, sabarlah kamu (dalam menegakkan agama Allah) dan sabarlah kamu dalam perjuangan menghadapi musuh (hawa nafsu) dan tetap teguhlah kamu (dalam barisan perjuangan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah moga-moga kamu mendapat kemenangan.
(Ali Imran: 200)
Nafsu yang mesti diperangi di antaranya adalah sifat mementingkan diri sendiri, tamak, gila dunia, kedudukan dan kehormatan diri. Itu semua adalah penghalang yang cukup kuat untuk kita mendapatkan hakikat (amalan batin), juga sebagai hijab yang menghalang kita untuk mendapat sifat kerohanian sebab kita merasakan diri sebagai tuan.
Supaya kita bertambah yakin, maka ada satu kisah pengalaman seorang wali bernama Yazid Bustami:
Satu hari seorang temannya datang pada Yazid Bustami untuk mengadu, "Saya telah berpuasa setiap hari dan melakukan solat setiap malam selama 30 tahun tetapi tidak juga memperoleh keringanan batin seperti yang engkau ceritakan."
Yazid Bustami pun memotong kata-kata temannya,"Kalaupun engkau melakukan solat dan berpuasa selama 300 tahun, engkau pasti tidak dapat menemukannya."
"Kenapa?" Tanya temannya.
Jawab Yazid, "Sifatmu yang mementingkan diri sendiri dan serakah menjadi penghalang dan hijab antara engkau dengan Allah."
Teman itu lantas bertanya, "Katakanlah padaku apakah ubatnya?"
"Ada ubatnya," kata Yazid, "Tetapi engkau tidak akan sanggup melakukannya."
Setelah dipaksa oleh temannya Yazid pun berkata:
"Pergilah ke tukang gunting rambut yang terdekat dan guntinglah janggutmu. Bukalah bajumu kecuali ikat pinggang yang melingkari pinggangmu. Ambillah karung yang biasa diisi makanan kuda, isilah buah kenari dan gantungkanlah karung itu di lehermu. Kemudian pergilah ke pasar sambil menangis, teriakkanlah seperti ini, "setiap anak-anak yang memukul batang leherku akan mendapat sebiji kenari." Selanjutnya pergilah ke pengadilan, hakim dan ahli hukum, katakanlah kepada mereka,"Selamatkanlah jiwaku."
Teman itu berkata, "Sungguh aku tidak sanggup berbuat begitu. Berilah cara pengubatan yang lain."
Yazid berkata, "Yang aku ceritakan tadi adalah cara pengubatan pendahuluan yang sangat perlu dilakukan untuk mengubati penyakitmu. Tapi sebagaimana yang aku katakan tadi, engkau tidak dapat disembuhkan lagi."
Yazid Bustami seorang wali Alah yang mukasyafah dapat membaca hati (rahsia batin) temannya yang berjuang untuk nama, pangkat dan sanjungan manusia. Sebab itu Beliau perintahkan sahabat itu bermujahadah dengan nafsunya itu dengan cara menghina diri di pasar dan mengaku jahat di hadapan hakim. Perintah itu memang berat, tetapi bagi Yazid tidak ada jalan lain lagi. Itulah cara majahadatunnafsi yang mesti dilakukan.
Begitulah pentingnya mujahadatunnafsi untuk siapa saja yang ingin meningkatkan kerohaniannya. Selagi nafsu tidak dapat dikalahkan, selama itulah roh tidak akan suci dan bersih. Kalau roh tidak bersih, Allah tidak akan memasukkan taufik dan hidayah ke dalam hati. Sebab benda yang berharga akan Allah letakkan di tempat yang mulia.
Roh seperti wadah. Kalau kotor, maka taufik dan hidayah tidak akan masuk. Kalau tidak ada taufik dan hidayah, roh akan terhijab dan kita tidak akan dapat meningkatkan kerohanian (amalan batin) ke taraf kerohanian yang tinggi. Dan tanpa kerohanian, hati (roh) tidak akan selamat dari penyakit-penyakit mazmumah. Firman Allah:
Terjemahannya: Hari Qiamat ialah hari di mana anak dan harta tidak dapat memberi manfaat kecuali mereka yang mengadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera.
(Asy-Syu’ara: 88-89)
Amalan lahir seperti solat, puasa, walaupun dilakukan sepanjang hari dan solat tahajjud setiap malam (seperti cerita di atas), berjihad, berkorban, belajar, menutup aurat dan lain-lain, tidak dapat menjamin bahwa hati sudah selamat. Yang menjamin selamatnya hati ialah mujahadatunnafsi. Itulah amalan batin yang wajib kita lakukan.
Suatu hari di dalam kuliahnya, seorang ulama sufi, Bisyulhafi bercerita kepada muridnya bahwa, mempunyai isteri yang banyak itu tidak menolak zuhud. Salah seorang muridnya yang mengetahui bahwa gurunya tidak pernah berkahwin, lalu bertanya,
"Tuan, kalau begitu kenapa tuan tidak berkahwin? Bukankah menyalahi sunnah?"
Bisyulhafi pun menjawab, "Aku tidak sempat melakukan sunnah itu kerana sibuk. Sibuk melakukan perkara yang lebih fardhu, yang belum mencapai tujuan iaitu mujahadatunnafsi."
Begitulah pandangan ahli sufi tentang pentingnya mujahadatunnafsi. Mereka tidak pernah berhenti memperhatikan perjalanan nafsu dan syaitan, sehingga nafsu dan syaitan itu selalu dapat diperangi dan dikalahkan untuk menghambakan diri pada Allah SWT.
Kalau kita ingin berjumpa Allah dengan selamat, jalan itulah yang mesti ditempuh. Tanpa menempuh jalan itu, kita akan dapat juga berjumpa dengan Allah (kerana kita semua akan mati) tetapi dalam keadan susah-payah dan hina-dina, wal ‘iyazubillah!
Jalan keselamatan itu adalah melakukan mujahadatunnafsi. Kita mesti bermujahadah atas semua mazmumah yang setiap saat selalu menyerang kita. Mazmumah atau penyakit hati yang dihidupkan oleh nafsu itu adalah semua sifat batin yang bertentangan dengan amalan batin. Penyakit hati saya bahagikan kepada dua iaitu:
1. Penyakit hati terhadap Allah.
2. Penyakit hati terhadap manusia.
Penyakit hati terhadap Allah, diantaranya:
- Tidak khusyuk beribadah
- Lalai dari mengingat Allah
- Tidak yakin dengan Allah
- Tidak ikhlas dengan Allah
- Tidak takut pada ancaman Allah
- Tidak harap pada rahmat Allah
- Tidak redha akan takdir Allah
- Tidak puas dengan pemberian Allah
- Tidak sabar atas ujian Allah
- Tidak syukur atas nikmat Allah
- Tidak terasa di awasi Allah
- Tidak terasa kehebatan Allah
- Tidak rindu dan cinta dengan Allah
- Tidak tawakal kepada Allah
- Tidak rindu pada syurga dan tidak takut pada neraka
- Cinta dunia, membuang waktu dengan sia-sia.
- Penakut (takut pada selain Allah)
- Ujub
- Riya'
- Gila pujian dan kemasyhuran.
Sedangkan penyakit hati (mazmumah) terhadap manusia diantaranya:
- Benci membenci.
- Rasa gembira kalau dia mendapat celaka dan rasa sedih kalau dia berjaya
- Mendoakan kejatuhannya
- Tidak mahu meminta maaf dan tidak memaafkan kesalahannya.
- Hasad dengki
- Dendam
- Bakhil
- Buruk sangka.
- Tidak bertimbang rasa.
- Tidak bertoleransi.
- Tidak tolong-menolong.
- Tamak
- Keras hati
- Mementingkan diri sendiri.
- Sombong.
- Tidak sabar dengan ulah manusia.
- Memandang hina kepada seseorang
- Riya'
- Ujub
- Merasa diri bersih.
Terhadap semua penyakit itu kita wajib melakukan mujahadatunnafsi. Firman Allah:
Terjemahannya: Wahai orang-orang beriman, sabarlah kamu (dalam menegakkan agama Allah) dan sabarlah kamu dalam perjuangan menghadapi musuh (hawa nafsu) dan tetap teguhlah kamu (dalam barisan perjuangan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah moga-moga kamu mendapat kemenangan.
(Ali Imran: 200)
Untuk mujahadah melawan penyakit hati (mazmumah) dengan Allah, langkah-langkahnya ialah: memperbanyak ibadah-ibadah hamblumminallah seperti solat sunat (dengan faham, khusyuk dan istiqamah), zikrullah, wirid dan tahlil, membaca Al Quran, berdoa, tafakur dan sebagainya yang akan diuraikan sebagai berikut:
1. SOLAT
Hal penting yang perlu diambil perhatian saat menunaikan solat adalah khusyuk. Itu didasarkan pada apa yang diingatkan oleh Rasulullah SAW kepada Abu Zar:
"Ya Abu Zar, dua rakaat solat yang dilakukan dengan khusyuk itu lebih baik dari solat sepanjang malam tetapi dengan hati yang lalai."
Solat yang khusyuk dapat diertikan sebagai solat yang sempurna lahir dan batin. Ketika jasad menghadap Allah, hati juga tunduk menyembah Allah. Ketika mulut menyebut Allahu Akbar, hati juga mengaku Allah Maha Besar. Ketika jasad sujud menghina diri, hati juga bersujud menghina diri. Dan ketika mulut memuji mengagungkan Allah dan berdoa pada Allah, hati juga memuja, merintih dan tenggelam dalam penyerahan pada Allah.
Telah bertanya Jibril pada Nabi SAW:
Terjemahannya: Khabarkan padaku apa itu Ihsan? Dijawab oleh Rasulullah, Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia senantiasa melihat engkau.
Kalaulah solat itu dapat dihayati, sebagaimana yang dianjurkan di atas, pengaruhnya akan cukup besar pada diri dan jiwa manusia. Iman akan bertambah seiring dengan bertambahnya rasa tawakal, syukur, redha, sabar dan lain-lain sifat mahmudah.
Cukuplah sedikit rakaat solatnya asalkan khusyuk daripada banyak rakaat solat tetapi lalai. Sebab perkara yang menjadi tujuan ibadah ialah membuahkan iman dan akhlak.
Walaupun banyak rakaatnya tetapi dikerjakan dengan hati yang lalai, maka bukan saja iman dan akhlak tidak bertambah, bahkan ibadah akan menjadi sia-sia. Mungkin Allah akan memberikan pahala juga, tetapi apakah kita akan bangga kalau perniagaan yang kita buat hanya mengembalikan modal, tidak mendapat untung sama sekali? Solat yang lalai tidak akan menambah iman dan menguatkan jiwa sebaliknya hanya akan membuat badan menjadi letih.
Di Padang Mahsyar nanti, Allah akan memanggil manusia yang solat untuk diperiksa solatnya. Waktu itu solat akan dikategorikan pada lima tingkat:
1. Solat orang jahil.
2. Solat orang lalai.
3. Solat orang yang setengah lalai setengah khusyuk.
4. Solat orang khusyuk.
5. Solat Nabi-Nabi dan Rasul.
Solat orang jahil ialah solat yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki ilmu tentang solat. Dia tidak tahu tentang rukun dan sunat dalam solat serta solat tanpa peraturan yang telah ditetapkan syariat. Kerana itu sejak awal solatnya tidak diterima bahkan ia berdosa kerana tidak belajar tentang ilmu solat.
Solat orang lalai ialah solat yang walaupun sempurna lahirnya tetapi hatinya sama sekali tidak ikut dalam solat. Bermacam-macam hal yang diingat sewaktu berdiri, rukuk, sujud dan duduk dalam solat itu. Dari awal hingga akhir solatnya, sedikit pun tidak ingat Allah. Solat seperti itu akan dianggap sebagai dosa bukannya mendapat pahala. Allah berfirman:
Terjemahannya: Neraka Wail bagi orang yang solat. Yang mereka itu lalai dalam solatnya.
(Al Maa’un: 45)
Solat yang ketiga ialah solat yang di dalamnya terjadi tarik-menarik dengan syaitan. Ertinya orang itu selalu merasakan bila syaitan mulai membuat dirinya lalai dari mengingat Allah. Cepat-cepat dikembalikan ingatannya pada Allah. Begitulah seterusnya terjadi hingga akhir solat. Ada waktu lalai dan ada waktu khusyuk. Solat seperti itu tidak berdosa dan tidak juga berpahala, tetapi dimaafkan oleh Allah.
Solat orang khusyuk ialah solat orang yang terus mengingat Allah di sepanjang solatnya serta memahami apa yang dibacanya dalam solat. Orang itu dapat merasakan bahwa dia sedang mengadap Allah. Perhatiannya hanya kepada Allah. Bagi orang tersebut, solatnya bererti menunaikan janji kepada Allah, memohon ampun kepada Allah, mengharap kepada Allah, menghina diri kepada Allah dan mengagungkan Allah.
Solat seperti itulah yang akan menghapuskan dosa, memperbaharui ikrar (yang pernah diucapkan di alam roh), menguatkan iman, mendekatkan hati kita kepada Allah, meningkatkan taqwa dan mengelakkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Itulah keuntungan di dunia. Dan di akhirat Allah akan menganugerahkan pahala syurga yang penuh kenikmatan.
Solat yang kelima ialah tingkat tertinggi iaitu solat para Nabi dan Rasul. Mereka itu khusyuknya luar biasa. Mereka benar-benar melihat Allah dengan mata hati. Dalam solat, mereka seakan-akan sedang bercakap-cakap dengan Allah. Sebab itu mereka tidak pernah jemu melakukan solat. Sebagaimana indahnya perasaaan hati orang yang dapat bertemu kekasihnya, begitulah indahnya perasaan mereka itu dalam solat.
Salah satu perkara utama yang disukai oleh Rasulullah SAW adalah shalat. "Solat penyejuk mataku," sabda Rasulullah. Syurga yang akan Allah anugerahkan pada mereka adalah syurga tertinggi yang tidak dapat dicapai oleh orang-orang awam seperti kita.
Jadi tugas kita sekarang ialah memperbaiki solat kita sekaligus memperbanyakkannya. Untuk itu sekali lagi kita mesti mujahadah. Hanya dengan mujahadah kita dapat meningkatkan iman dan memperbanyak amal soleh. Serta hanya dengan iman dan amal soleh saja kita akan dapat membangun dan menghias rumah kita di akhirat nanti.
2. ZIKRULLAH, WIRID DAN TAHLIL
Semua ibadah zikrullah kalau dikerjakan dengan betul akan meresap ke hati dan menghasilkan iman, ketenangan, serta kebahagiaan di hati. Firman Allah:
Terjemahannya: Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah itu, hati akan tenang.
(Ar Ra’d: 28)
Syaratnya ibadah itu mesti dilakukan dengan beradab, memahami dan menghayati maksudnya.
Misalnya kita menyebut Subhanallah, hati mesti diberitahu bahwa Allah Maha Suci dari kekurangan yang disifatkan pada-Nya. Bila menyebut Alhamdulilah, hati mesti merasakan bahwa segala puji hanya bagi Allah. Segala kebaikan, nikmat dan rahmat yang memenuhi langit dan bumi adalah kepunyaan Allah. Hati mesti merenungkan segala pemberian Allah pada kita sewaktu menyebut pujian itu supaya terasa hubungan antara kita dengan Allah. Begitu juga ketika menyebut Allahu Akbar, hati mesti sedar bahawa Allah Maha Besar, Maha Pencipta, Maha Perkasa dan Maha Mengatur seluruh langit dan bumi. Rasakan betapa kerdilnya kita di bawah kekuasaan Allah yang hebat itu.
3. MEMBACA AL QURAN
Al Quran adalah Kitabullah yang diturunkan khusus untuk kita manusia. Membacanya adalah ibadah, memahaminya adalah ubat, mengikutinya adalah petunjuk dan menghayatinya menambah iman dan taqwa. Maka orang yang menganggap remeh dan ringan terhadap Al Quran akan menderita kerugian besar.
Bertanya Allah dalam surah Al Waaqi’ah:
Terjemahannya: Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Terdapat dalam kitab yang terpelihara (lauhul mahfuz). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Quran ini? Kamu (mengganti) rezeki (Allah) dengan mendustakan Allah.
(Al Waaqi’ah: 77-82)
Begitulah umat Islam pada hari ini. Mereka menyamakan kitab mulia itu dengan buku ciptaan manusia. Kadangkala, Al Quran dipermainkan dengan tujuan duniawi semata-mata. Alangkah sedihnya.
Mari kita kembali menjunjung pusaka mulia, warisan yang betul-betul ditujukan untuk kita. Mari kita agungkan dengan seagung-agungnya dan kita perjuangkan sungguh-sungguh. Tindakan seperti itulah yang sesuai dengan kemuliaan dan kehebatan yang ada pada Al Quran.
Adab-adab yang perlu dilakukan ketika kita membaca Kitab mulia ini diantaranya adalah:
- Berwudhu'.
- Tempat duduk kita bersih dan suci seperti mesjid, surau dan
lain-lain.
- Menghadap kiblat.
- Membaca ta’awwudz "a'udzubillahi minas syaithon nirrajiim"
sebelum memulai membaca Al Quran.
- Bacaan dilakukan dengan tertib yakni dengan jelas dan
perlahan-lahan.
- Memahami dan menghayati bacaan dengan melakukan apa
yang dikehendaki oleh ayat yang dibaca. Misalnya kita
membaca ayat tasbih, maka maka kita berdoa dan bertasbih.
- Bila membaca ayat doa dan istighfar, maka kita berdoa dan
meminta ampun.
- Bila membaca ayat yang menceritakan azab Neraka, maka kita
berlindung dari Neraka Allah dengan doa "a'udzubillahi min
dzalika"
- Bila membaca ayat yang menceritakan nikmat syurga, maka
kita berdoa "allahumma arzuqna" semoga Allah juga
menganugerahkannya kepada kita.
- Bila membaca ayat tentang orang kafir yang mensyirikkan
Allah, maka kita segera menolak dengan ucapan
"Subhanallahi ‘amma yasifuun", dan begitulah seterusnya.
- Ucapan-ucapan itu dapat diucapkan di mulut atau di hati
tetapi yang penting adalah kesungguhan dan keikhlasan kita
dalam menyebutnya (mengucapkannya) .
- Bacaan dibuat dengan suara dan nada yang merdu serta enak didengar.
- Jangan memutuskan bacaan hanya karena hendak makan atau
bercakap-cakap. Berhentilah di tempat-tempat yang telah
ditentukan. Sebaiknya diakhiri dengan doa.
Sesungguhnya kalau kandungan Al Quran itu selalu kita perhatikan dengan kefahaman dan keimanan, Insya Allah hati kita akan terdidik, keimanan dan ketaqwaan kita akan bertambah.
4. BERDOA
Berdoa adalah ibadah. Selain itu berdoa juga merupakan sumber iman dan tempat menggantungkan diri kepada Allah. Orang-orang yang tidak mahu berdoa kepada Allah sebetulnya adalah orang yang sombong dengan Allah. Bukankah terlalu banyak keperluan, keinginan dan harapan kita yang hanya mungkin tercapai dengan pertolongan Allah?
Kalau begitu, marilah kita berdoa. Kita ceritakan semua masalah pada Allah dan kita gantungkan harapan yang penuh kepada-Nya. Berdoalah di tempat-tempat dan waktu-waktu yang makbul dengan hati yang penuh khusyuk, harap, yakin serta sabar. Insya Allah doa akan menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan.
Sudah menjadi fitrah manusia, bila berada dalam kesusahan ia akan mengalami ketegangan fikiran dan perasaan. Satu-satunya cara mengubati penyakit itu adalah dengan mengadu, mengharap dan menyandarkan diri kepada suatu kuasa yang boleh menolongnya menyelesaikan masalah itu. Kerana itu, agama Islam mengajar kita untuk berdoa. Sebab hanya Allahlah kuasa mutlak yang layak dan mampu berbuat begitu.
Faedah berdoa adalah jiwa yang lemah akan menjadi kuat, hati yang susah menjadi senang dan perasaan yang gelisah akan menjadi tenang.
5. TAFAKUR
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
Terjemahannya: Berfikir satu saat itu lebih baik daripada ibadah setahun.
Anjuran untuk berfikir itu bertujuan untuk menyedarkan manusia tentang sifat wujud Allah dan Maha Kuasanya Allah. Perkara-perkara yang sebaiknya difikirkan adalah tentang keberadaan diri kita di hadapan Allah. Allah memulai penciptaan kita hanya dari setitik air mani. Harga setitik air mani lebih rendah daripada harga sebiji padi, kalau saja Allah tidak menanamnya di dalam rahim perempuan.
Juga tidak akan berharga kalau Allah tidak memelihara dan menghidupkannya dengan memberi segala keperluan untuk tinggal di dalam rahim. Belum juga berharga sekiranya Allah tidak memudahkan baginya keluar ke atas bumi. Bahkan belum juga berharga kalau Allah tidak membesarkan serta memberi akal fikiran.
Dengan akal yang Allah kurniakan, manusia dapat menjadi raja, menteri, anggota kabinet, tentara, ahli fikir, profesor, doktor, jurutera, pensyarah, guru dan lain-lain yang pandai, kuat, kaya dan hidup secara bebas. Dengan akal fikiran, manusia telah dapat meratakan gunung, membelah angkasa, menyelami lautan dan memperkosa bumi sekehendaknya. Tetapi tidak selamanya begitu. Kita tidak akan boleh selamanya berbuat sekehendaknya atau memperoleh apa yang kita inginkan.
Kita akan mengalami kematian. Bagaimana kita dapat menghalangi datangnya kematian itu? Tidak mungkin. Seperti halnya kita tidak mungkin mendatangkan diri kita ke dunia ini. Firman Allah dalam Al Quran:
Terjemahannya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah kemudian Dia menjadikan kamu sesudah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menetapkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa.
(Ar Rum: 54)
Sesudah mati, Allah berjanji untuk menghidupkan dan membangkitkan kita kembali di hari Qiamat. Apakah alasan kita untuk tidak percaya pada janji Allah itu? Siapakah diri kita yang berani menolak kedatangannya?
Firman Allah SWT:
Terjemahannya: Tidaklah susah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) melainkan hanya seperti (mencipta dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Luqman: 28)
Mari kita fikirkan juga nikmat-nikmat Allah yang kita terima sekarang ini. Mata, telinga, kaki, tangan dan semua anggota tubuh kita sangat penting untuk keperluan hidup. Allah kurniakan kepada kita tanpa meminta bayaran satu sen pun dari kita. Padahal harga sepasang kaki palsu sudah beribu-ribu begitu juga dengan gigi palsu. Apalagi mata, telinga, hati, lidah dan akal yang Allah kurniakan, tentu tidak akan ternilai harganya.
Dengan apa kita akan membalas pemberian yang begitu besar? Renungkanlah apakah kita sudah berterimakasih kepada Allah? Sudahkah kita laksanakan suruhan-Nya? Sudahkah kita berhenti melakukan hal-hal yang dilarang-Nya? Sudah cukupkah amal bakti kita sebagai hamba untuk membalas kemurahan dan kasih sayang Allah yang telah memelihara kita?
Pernah diceritakan bahwa telah meninggal seorang abid (ahli ibadah). Lalu Allah memanggilnya untuk diberitahu bahwa dia akan dimasukkan ke syurga kerana kemurahan dan rahmat Allah kepadanya. Mendengar hal itu, si abid merasa tidak puas kerana ia masuk ke syurga melalui belas kasihan dari Allah sedangkan di dunia dia begitu kuat beribadah. Si abid lalu memohon dimasukkan ke syurga yang setimpal dengan amal ibadahnya yang banyak itu.
Allah SWT memerintahkan malaikat menghitung dan menilai ibadah si abid tersebut. Setelah selesai, Allah mengumumkan bahwa ibadah-ibadah yang telah dibuat oleh si abid itu tidak cukup hanya untuk membayar harga sebelah matanya apalagi untuk mendapatkan syurga? Si abid pun tersipu-sipu lalu memohon agar diberi peluang untuk masuk ke syurga.
Demikianlah satu contoh yang menunjukkan bahwa nilai amal bakti kita masih belum sebanding dengan pemberian Allah pada kita. Meskipun setiap detik dari umur kita, kita gunakan untuk menghambakan diri kepada Allah, itu pun belum memadai untuk menandingi nikmat dari Allah. Apalagi kalau kita sombong, ingkar dan derhaka kepada Allah tentu sangat setimpal bila Allah lemparkan kita ke dalam api neraka dan tersiksa untuk selama-lamanya.
Lihat juga kejadian padi yang kita masak menjadi nasi. Dapatkah batang padi itu tumbuh dengan sendirinya kalau Allah tidak menurunkan hujan dan kalau Allah tidak menggemburkan tanah supaya biji yang di dalam tanah itu dapat menembus naik untuk mendapatkan cahaya matahari? Dapatkah manusia membuat air? Dapatkah manusia melubangi tanah dengan sehalus-halusnya hingga akar batang itu dapat menjalar mencari makanan dan minumannya? Manusia menanam, tetapi siapa yang menumbuhkannya?
Sesudah berfikir dan membuat kesimpulan, sudah selayaknya hati kita terbuka, nampak kewujudan, kemurahan dan kekuasaan Allah SWT. Seharusnya hati akan menyedarkan akal tentang perlunya menyembah Allah. Hati selanjutnya akan memerintahkan kaki, tangan dan seluruh anggota lahir menunaikan perintah Allah dan berhenti dari mengerjakan larangan-Nya. Kalau tidak terjadi seperti itu, maka selayaknya kita menangis, kerana hati yang buta lebih parah dari akal yang buta.
Kemudian hadapkan muka kita ke langit. Lihatlah matahari yang terbit dan terbenam, memberi panas, membuat perbezaan waktu dan pergantian musim. Bulan yang kecil dan besar, membuat malam kadang-kadang gelap dan kadang-kadang terang, membuat air laut pasang dan surut. Lihatlah bintang-bintang yang berkerlipan menghiasi langit hingga berseri-seri.
Lihatlah semua itu dan ingatlah Allah. Tanamkan dalam hati betapa besar kuasa-Nya dan pemurah-Nya. Dengan begitu mudah-mudahan hati kita menjadi lembut dan tunduk untuk menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah.
Bersabda Rasulullah SAW maksudnya:
"Siapa yang memandang ke langit, melihat bulan dan bintang kemudian terasa betapa kuasanya Allah, maka Allah akan mengampunkan dosanya sebanyak jumlah bintang-bintang itu."
Seseorang yang melihat alam kemudian berfikir tentang Allah, lalu terasa kehebatan Allah hingga hatinya lembut dan tunduk menyembah Allah dengan sedar dan khusyuk, itulah manusia yang sempurna.
Dia menyedari bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah. Segala sesuatu yang dimilikinya merupakan pemberian Allah. Kerana itu ia ingin menyerahkan kembali segala pemberian Allah itu untuk beribadah kepada Allah. Hasilnya dia akan berbahagia di dunia dan akhirat.
Di dalam Al Quran Allah berulang kali menyuruh manusia untuk berfikir serta menggunakan akal yang telah diberikan untuk menyaksikan wujud dan perkasanya Allah.
Firman-Nya:
Terjemahannya: Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan (untuk kepentinganmu) apa yang di langit dan di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan sebahagian manusia masih ada yang membantah tentang keesaan Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan kitab yang memberi penerangan.
(Luqman: 20)
Terjemahannya: Dan di antara kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikannya di antara kamu kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu sebagai bahan renungan, bagi kaum yang berfikir.
(Ar-Rum: 21)
Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak (menguasai bumi).
(Ar Rum: 20)
Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan begitu juga berlain-lainan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
(Ar-Rum: 22)
Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari kurnia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
(Ar-Rum: 23)
Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan dan Dia menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
(Ar-Rum: 24)
Terjemahannya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah terbinanya langit dan bumi dengan perintah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggilmu dengan sekali panggilan dari bumi, ketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
(Ar-Rum: 25)
Satu hal lagi yang perlu difikirkan adalah tentang dosa kita kepada Allah dan sesama manusia. Berapa banyak dosa kita kepada Allah dan sesama manusia? Selamatkah kita dari siksaan dan kemurkaan Allah di dunia dan di Akhirat? Mampukah kita berhadapan dengan Munkar dan Nakir di dalam kubur nanti? Sanggupkah kita menghadapi panasnya api Neraka? Renungkan dan fikirkanlah selalu. Insya Allah renungan itu akan melembutkan hati.
Setelah itu tanamkan keyakinan yang mendalam bahwa kematian itu benar, masuk ke liang kubur itu benar, pertanyaan Munkar dan Nakir itu pun akan kita hadapi. Melintasi Siratal Mustaqim itu benar, pembalasan siksa Neraka dan nikmat Syurga adalah kebenaran yang akan terjadi. Semua itu pasti terjadi tanpa keraguan lagi.
Sekiranya peringatan itu diulang-ulang setiap hari pada hati kita, maka insya-Allah iman yang kuat akan masuk ke dalam hati kita, sehingga tidak mudah digoyangkan walaupun dengan angin taufan yang kuat dan dahsyat.
Usaha lain yang sebaiknya dilakukan untuk mendapatkan iman adalah berpuasa sunat, berjuang, berjihad, bersedekah, menziarahi orang sakit atau jenazah dan lain-lain. Kalau amalan-amalan itu dilakukan sesuai dengan adab dan tujuan yang dianjurkan syariat, semuanya akan menambah iman.
Perlu diingatkan pula bahawa setiap dosa baik kecil maupun besar akan meruntuhkan dan membinasakan iman.
Rasulullah SAW bersabda:
Terjemahannya: Bukanlah seorang yang berzina ketika berzina seorang mukmin.
(Riwayat Al Bukhari dan Muslim)
Ertinya bila seseorang itu sedang berzina maka imannya akan hilang dan rosak. Jadi bagi mereka yang sangat ingin memelihara dan meningkatkan imannya, janganlah melakukan dosa kecil ataupun besar. Kalau tidak sengaja membuat dosa, maka cepat-cepat istighfar, menyesal dan taubat.
Iman juga boleh turun setelah naik atau boleh naik setelah turun. Itulah sifat iman kita iaitu iman ilmu. Sebab itu supaya tidak mengalami penurunan, iman mesti selalu dipupuk dengan cara-cara yang telah diuraikan di atas. Siapa yang rajin, maka ia akan selamat. Sebaliknya siapa yang lalai akan menerima akibatnya.
Saya tegaskan bahwa ibadah-ibadah di atas mesti dilakukan dengan khusyuk dan tawadhuk. Kalau tidak, ibadah itu tidak akan bererti apa-apa. Perbandingannya seperti orang yang lapar kemudian mengambil nasi hanya untuk dipermainkan bukan untuk disuapkan ke mulut. Apakah laparnya akan hilang?
Begitulah ibadah, kalau tidak dihayati, maka jiwa tidak akan memperoleh apa-apa. Lebih baik tidak solat sunat kalau dilakukan dengan tergopoh-gopoh. Selain tidak beradab dengan Allah, solat itu tidak akan berkesan pada hati kita.
Dengan ibadah-ibadah yang khusyuk kita akan membiasakan hati untuk:
- Membesarkan Allah,
- Mengenal Allah,
- Menghina diri dan malu dengan Allah,
- Takut ancaman Allah dan harap pada nikmat Allah,
- Terasa diawasi Allah,
- Terasa gentar dengan kehebatan Allah di samping rasa cinta kepada-Nya,
Bila perasaan-perasaan seperti itu sudah tertanam di dalam hati, dengan sendirinya hati kita akan melakukan amal soleh, diantaranya:
1. Bila kita menerima nasib buruk, kita akan redha sebab kita yakin Allah yang telah mentakdirkannya. Selain itu Allah cukup adil dan pengasih kepada makhluk-Nya. Setiap takdir-Nya akan membawa kebaikan, bukan untuk menganiaya dan menyiksa kita. Lagi pula bila dibandingkan nasib buruk itu hanya sedikit sedangkan nikmat-nikmat lain tidak terhitung banyaknya.
2. Bila datang ujian, kita akan sabar. Allah menguji kita atas dua maksud:
a. Untuk menghapuskan dosa
Sebagai manusia kita akan selalu berdosa baik disedari atau tidak. Jadi sudah selayaknya kita diuji untuk mengingatkan kita agar kejahatan itu jangan berulang kembali. Renungilah, bahwa balasan di dunia pun rasanya tidak mampu untuk ditanggung apalagi balasan di Neraka. Dengan begitu kita akan menerima balasan (ujian Allah itu) dengan tenang sambil mengharapkan ujian itu akan berakhir. Dengan demikian dosa kita akan terampun dan hati kita akan tenang kembali.
b. Untuk meninggikan darjat kita.
Kita akan merasa senang kalau mendapat kenaikan pangkat. Jadi kalau ada ujian Allah yang bermaksud menguji kesabaran kita untuk mendapat kenaikan pangkat maka sudah sepatutnya kita terima dengan sabar dan senang hati.
3. Bila datang nikmat dari Allah baik lahir mahupun batin, maka kita akan bersyukur. Kita akan merasakan bahwa kesenangan lahir dan ketenangan jiwa kita semuanya adalah pemberian Allah (kuasa Allah dan nikmat dari-Nya). Hasil yang kita capai merupakan izin dan pertolongan Allah. Kerana itu kita selalu merasa berterima kasih kepada Allah.
Perasaan itu akan menolong kita untuk ingat serta cinta kepada Allah. Kita akan redha kepada kehendak-Nya. Selain itu kita memperbanyak ibadah-ibadah yang disukai-Nya dan mengorbankan kepentingan kita untuk beribadah kepada-Nya sebagai tanda syukur kepada-Nya.
4. Setiap kali selesai berusaha, berikhtiar dan beribadah kepada Allah, kita akan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Allah mempunyai hak mutlak untuk menentukan hasilnya baik atau buruk, berjaya atau gagal. Bahkan diri kita pun berada dalam tangan-Nya. Kita serahkan diri kita kepada-Nya dengan penuh baik sangka kepada-Nya untuk diatur mengikut kehendak-Nya.
5. Setiap kali kita membuat dosa, kita akan takut pada Allah. Hukuman Allah di dunia dan di Akhirat pasti menimpa kepada siapa yang berdosa. Hendaklah kita bertaubat (menyesal dan berjanji tidak akan membuatnya lagi). Kemudian, kita mengharapkan pengampunan Allah kerana Allah adalah Tuhan yang Maha pemaaf, Maha sopan santun dan lemah lembut.
6. Kita akan selalu beradab dan malu dengan Allah yakni senantiasa menunaikan kehendak-Nya dengan penuh takut, rindu, harap dan cinta kepada-Nya. Kita cukup merasa malu untuk sombong kepada-Nya, tidak menghiraukan-Nya dan menjauhi-Nya. Ertinya kita senantiasa merendahkan diri terhadap Allah dan khusyuk dalam beribadah. Selain itu kita berhati-hati, bimbang dan cemas, jangan-jangan kita telah membuat kesalahan dengan Allah.
7. Kita juga akan selalu merenung dan menyesali diri. Apakah kita sudah mendapat keredhaan dan keampunan dari Allah. Kita yang selalu lalai, lemah serta berdosa, layakkah mendapat keredhaan dan pengampunan-Nya? Waktu untuk beribadah terlalu pendek dibandingkan dengan waktu yang kita gunakan untuk bercakap-cakap kosong, berangan-angan memikirkan bagaimana untuk meluaskan dunia kita, bermegah-megah dengan harta, anak dan pengikut serta bermacam-macam kelalaian lagi.
8. Layakkah kita masuk ke dalam Syurga? Belum pernah bulu roma kita tercabut kerana berjuang di jalan Allah. Sedangkan ahli syurga seperti Nabi dan para sahabat pernah tercabut gigi, pecah muka, remuk tulang dan hilang nyawa kerana berjuang mempertahankan agama Allah.
Pengorbanan apa yang telah kita buat yang perbandingannya mampu menebus kita dari api neraka?
9. Jika yang kita inginkan, tidak kita peroleh, kita akan redha sebab kita sedar bukan kita yang menunaikan hajat tetapi Allah. Dialah yang memberi dan menyempitkan rezeki. Sebab itu kita tenang, redha dan sabar, sesuai dengan kehendak dari Allah.
Renungilah siapa diri kita. Sepatutnya kita merasa lemah, kita merasa tidak mampu menunaikan keperluan kita sendiri tanpa bantuan Allah. Kita merasa malu pula untuk tidak redha dengan Allah.
Nyawa yang ada pada diri kita itu pun kepunyaan Allah. Kalau Allah matikan kita, tentu akan terasa berat. Semuanya terserah pada Allah. Dengan begitu kita merasa tidak keberatan bila nikmat yang diberi oleh Allah itu sedikit. Kita hanya boleh meminta bukan memaksa. Meminta itu sifat hamba sedangkan memaksa itu sifat tuan.
Kalaulah perasaan-perasaan (amalan-amalan batin) yang telah dihuraikan di atas tidak ada dalam jasad batin kita, itu tandanya mujahadah kita tidak kuat dan ibadah kita belum sampai tujuannya (untuk mendidik jiwa).
Usaha kita mesti ditambah. Kalau ibadah kita cukup dan sampai pada tujuan, maka kita akan menjadi orang yang bahagia dan selamat dari sakit jiwa. Sebab hanya orang yang mempunyai tasawuf (kerohanian) yang tinggi saja yang mampu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Mereka lah yang membangun dan mendapatkan syurga untuk dunia dan Akhirat mereka.
Amalan-amalan mereka lahir dan batin akan menyelamatkan mereka di dunia dan Akhirat. Hati mereka yang selamat di dunia, juga akan selamat di Akhirat. Mereka akan mendapat kemanisan iman, kelezatan beribadah karena hatinya benar-benar cinta Allah dan Rasul serta benci kepada mungkar dan maksiat.
Bersabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Tiga perkara ini, siapa yang memilikinya akan mendapat kemanisan iman:
1. Mencintai Allah dan Rasul lebih daripada lainnya.
2. Mencintai seseorang semata-mata kerana Allah.
3. Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci
dilemparkan ke Neraka.
(Riwayat Ahmad, Al Bukhari dan Muslim,
At Tarmizi, An Nasai dan Ibnu Majah)
Bila mendapat kemanisan iman, penderitaan menjadi kecil dan dunia tidak ada lagi dalam ruang hatinya. Hatinya asyik dengan Allah. Itulah yang terjadi pada sahabat-sahabat Rasulullah. Bilal, waktu dijemur di tengah panas serta diazab untuk dipaksa kembali kepada kekufuran, dengan tenang dia menjawab, "Ahad, Ahad." Azab tidak terasa azab lagi.
Peristiwa lain juga terjadi pada seorang sahabat. Untanya dicuri orang di waktu malam ketika sedang shalat. Dia tidak langsung menghentikan shalatnya. Dia merasa kemanisan iman dan ibadah hingga lupa bertindak terhadap pencuri itu.
Cerita lain, ada dua orang sahabat yang Rasulullah lantik untuk mengawal tentara Muslimin di satu peperangan di waktu malam. Seorang tidur sementara seorang lagi berjaga dan melakukan shalat. Tiba-tiba datang mata-mata musuh, dan terlihatlah kedua sahabat tadi. Ia menarik busur panah dan memanah sahabat yang sedang solat.
Sahabat itu tidak memutuskan solatnya. Dipanah lagi, sampai tiga kali barulah ia membangunkan sahabatnya dan berkata, "Kalau tidak takut, sesuatu akan menimpa umat Islam niscaya aku tidak berhenti solat." Begitulah kemanisan iman yang dirasakannya.
Mujahadatunnafsi terhadap mazmumah kita kepada manusia seperti hasad, dengki, dendam, buruk sangka, mementingkan diri sendiri, gila pangkat, serakah, bakhil, sombong dan lain-lain juga bisa dilakukan dengan cara menentang sifat-sifat itu.
Dalam buku saya bertajuk Iman dan Persoalannya, telah dinyatakan tiga contoh bagaimana melakukan mujahadah terhadap sifat bakhil, sombong dan takut.
(bersambung)
Monday, 11 June 2012
4-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI . Bab 2 Bukti-bukti susahnya mengamalkan amalan batin
Syukur, Alhamdulillah, kerana masih direzekikan untuk belajar, menimba ilmu, sesungguhnya sangat besar ilmu ini kerana jika kita terlalai, rupanya kita tertipu....Allah sesekali tidak memandang akan rupa paras dan harta benda sesorang, tetapi Allah memandang hati, sungguh sukar untuk memahami hakikat amalan Batin, terima kasih wahai guruku kerana mengajarkan ilmu2 untuk mendidik hati dan mendekatkan diri dgn Allah swt..moga perkongsian ini memberi ilmu yg bermanfaat untuk diamalkan bersama. Wassalam.
______________________________________________
Bab 2
Bukti-bukti susahnya mengamalkan amalan batin
MENGAMALKAN syariat lahir adalah hal yang sulit. Buktinya lihat saja umat Islam hari ini tidak sedikit yang tidak solat, tidak puasa, tidak membayar zakat, tidak dapat membaca Al Quran, tidak belajar agama, tidak menutup aurat, melakukan pergaulan bebas, ikut sistem riba, berzina, minum minuman keras, menipu, mengadu domba, fitnah-memfitnah dan macam-macam perbuatan yang semuanya sangat bertentangan dengan syariat.
Umat Islam hari ini, yang bangga dengan keIslaman mereka adalah umat Islam yang gagal menegakkan syiar Islam dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat mereka. Bukannya mereka tidak tahu apa itu syariat Islam yang diperintahkan pada mereka, tetapi mereka tidak mampu melaksanakannya. Mereka lemah untuk melawan tuntutan hawa nafsu dan syaitan yang kuat menarik kepada jalan-jalan kejahatan dan kerusakan.
Begitulah susahnya untuk mengamalkan syariat Islam dan itu menjadi masalah besar yang dihadapi oleh mayoritas umat Islam hari ini.
Namun, mengamalkan syariat batin jauh lebih susah daripada syariat lahir. Sebab amalan batin merupakan ilmu rasa (zauk) dan bukan ilmu kata, bukan sebutan dan teori tetapi merupakan rasa hati. Bukan saja orang yang lemah syariatnya tidak dapat melaksanakan syariat batin bahkan orang yang syariat lahirnya sudah kuat dan bagus masih belum dapat merasakan dan menghayatinya.
Buktinya dapat kita rasakan sendiri. Meskipun sedikit banyak kita sudah melakukan syariat lahir seperti solat fardhu, solat sunat, puasa, zakat, haji, berjuang dan berjihad, belajar ilmu-ilmu agama bahkan mengajar orang lain menutup aurat, berdakwah dan lain-lain, tetapi kita masih lalai dari mengingat Allah dan tidak cinta pada-Nya, tidak ada rasa takut dengan kehebatan Allah serta hina diri dengan Allah. Tidak sabar berhadapan dengan ujian, tidak merasakan kuasa itu di tangan Allah, tidak merasa diri berdosa. Masih suka mengumpat, hasad dengki, cinta dunia, tidak ada rasa belas kasihan, tidak berlapang dada bila berhadapan dengan manusia yang beraneka ragam, sombong, pemarah, pendendam, jahat sangka, serakah, keras kepala, keluh kesah, putus asa, tidak redha dengan takdir, tidak bimbang dengan hari hisab, tidak takut Neraka, tidak rasa rindu dengan Syurga yang penuh kenikmatan.
Kita menganggap kehebatan kita yang membuat diri kita mencapai kejayaan. Kita tidak merasakan bahwa kapan saja Allah bisa datangkan bencana dan mematikan kita. Karena merasa hebat maka kita membuat hutang, gila pangkat, membuat macam-macam rencana, tidak merasa kelemahan diri, tidak senang dengan kata nista orang, tidak senang dengan kelebihan orang yang menandingi kita, rasa menderita dengan kemiskinan, masih benci dengan orang yang tidak beramal (bukan rasa kasihan), masih merasa lebih bila berhadapan dengan orang yang tidak beramal, masih rasa terhina untuk menerima kebenaran dari orang lain, masih berat untuk mengakui kesalahan walaupun sedar kita sudah bersalah.
Jiwa merasa menderita bila dicaci, merasa tenang dan senang hati bila disanjung, merasa bangga bila mendapat nikmat, merasa mahu hidup lebih lama lagi dan merasa menderita bila miskin dan papa. Merasa bangga dengan kelebihan diri, merasa terhina dengan kekurangan, tidak pernah puas (cukup) dengan apa yang ada, tidak merasa berdosa (bersalah), tidak merasa dunia kecil dan hina, tidak merasa akhirat besar, tidak menderita bila berbuat dosa atau kesalahan tetapi menderita bila harta dan jabatannya hilang.
Mereka yang bagus dan kuat syariat lahirnya pun masih belum dapat melaksanakan amalan batin (syariat batin) secara istiqamah dan sungguh-sungguh, apalagi yang amalan lahirnya diabaikan sama sekali. Lebih susah bagi mereka mendapatkan amalan batin.
Kalau diumpamakan syariat itu pohon, maka amalan batin adalah buahnya. Orang yang sudah memiliki pohon pun belum tentu memperoleh buahnya (dan kalaupun dapat buah belum tentu sedap rasa buahnya), apalagi orang yang tidak menanam pohon sama sekali.
Begitulah perbandingannya orang yang tidak bersyariat. Susah sekali baginya untuk merasakan hakikat. Kalau secara lahir dia tidak dapat tunduk pada Allah, tentu batinnya lebih susah untuk diserahkan pada Allah.
Di antara tanda susahnya mendapat hakikat (amalan batin) ialah:
1. Ketika kita solat, secara lahir kita berdiri, rukuk dan sujud dengan mulut memuji dan berdoa pada Allah, tetapi kemanakah hati kita (ingatan dan fikiran)? Apakah juga menghadap Allah, khusyuk dan tawadhuk serta rasa rendah dan hina diri dengan penuh pengabdian dan harapan serta malu dan takut kepada Allah SWT? Ataukah hati terbang merewang ke mana-mana, tidak menghiraukan Allah Yang Maha Perkasa yang sedang disembah?
Begitu juga ketika sedang membaca Al Quran, bertahlil, zikir dan wirid, berselawat dan bertakbir, bertasbih dan bertahmid. Adakah roh kita turut menghayatinya? Atau waktu itu roh sedang merasakan satu perasaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan amalan lahir yang sedang dilakukan?
2. Pernahkah kita merasa indah bila sendirian di tempat sunyi karena mengingat Allah dan menumpukan perhatian sepenuhnya pada-Nya, merasa rendah dan hina diri, menyesali dosa dan kelalaian, mengingati-Nya sambil berniat dengan sungguh-sungguh untuk memperbanyak amal bakti pada-Nya?
3. Kalau ada orang Islam yang sakit menderita atau miskin, adakah hati kita merasa belas kasihan untuk membantu atau menolong mendoakan dari jauh agar dia selamat?
4. Pernahkah pula kita menghitung dosa-dosa lahir dan batin sambil menangis kerana istighfar kita terlalu sedikit dibandingkan dengan dosa kita yang menyebabkan kita nanti jadi bahan bakar api neraka?
5. Selalukah hati kita senantiasa ingat pada mati yang boleh saja mendatangi kita sebentar lagi, kerana memang Tuhan dapat berbuat begitu. Kalau pun kita belum dimatikan, ertinya Tuhan menginginkan kita mencuba lagi untuk mencari jalan mendekatkan diri pada-Nya?
6. Pernahkah kita menghitung berapa banyak harta kita, wang kita, rumah kita, kenderaan kita, perabut rumah kita, pakaian kita, kasut kita, makanan kita dan simpanan kita yang lebih dari keperluan kita walaupun diperoleh dengan cara yang halal? Semua itu akan diperkirakan, dihisab dan ditanya, dicerca dan dihina oleh Allah di padang mahsyar nanti kerana kita membesarkan dunia dan mengecilkan akhirat.
7. Pernahkah kita renungkan orang-orang yang pernah kita perlakukan secara kasar, kita umpat, kita tipu, kita fitnah, kita hina dan kita aniaya. Baik mereka itu adalah suami kita, isteri kita, ibu bapa kita, kaum kerabat kita, sahabat kita, tetangga kita atau siapa saja. Sudahkah kita meminta maaf dan membersihkan dosa dengan manusia di dunia tanpa menunggu tibanya hari yang dahsyat (hari kiamat)?
8. Apabila Allah memberikan rasa sakit pada kita atau pada orang lain yang kita kasihi (apa pun jenis penyakit itu), dapatkah kita tenangkan hati dengan rasa kesabaran dan kesedaran bahawa sakit adalah kifarah (pengampunan) dosa atau sebagai peningkatan derajat dan pangkat di sisi Allah SWT?
9. Ketika menerima takdir atau rezeki yang tidak sesuai dengan kehendak kita, dapatkah kita merasa redha, kerana itulah satu pemberian Allah yang sesuai untuk kita?
10. Di saat sesuatu yang kita inginkan dan cita-citakan tidak kita peroleh, dapatkah kita tenangkan perasaan kita dengan rasa insaf akan kelemahan dan kekurangan diri sebagai hamba Allah yang hina dina, yang menggantungkan hidup mati dan rezeki sepenuhnya pada Allah?
11. Di waktu mendapat nikmat, terasakah di hati bahwa itu adalah sebagai pemberian Allah lalu timbul rasa terima kasih (syukur) pada Allah dan rasa takut kalau-kalau nikmat itu tidak dapat digunakan kerana Allah dan berniat sungguh-sungguh untuk menggunakan nikmat itu hanya untuk Allah?
12. Kalau kita miskin dapatkah kita merasa bahagia dengan kemiskinan itu dan merasa lega kerana tidak perlu lagi mengurus nikmat Allah? Adakah kita merasa bahawa kemiskinan itu menyebabkan kita tidak perlu lagi mengadu dan meminta pada manusia kecuali pada Allah?
13. Kalau ada orang mencerca kita bolehkah hati kita merasa senang dan tenang lalu kita bersikap diam tanpa sakit, susah hati dan dendam. Bahkan kita memaafkan orang itu sambil mendoakan kebaikan untuknya sebab kita merasa bahwa ia telah memberi pahala pada kita melalui cercaannya itu?
Imam As Syafie berpuisi:
"Apabila seorang yang jahat mencerca aku, bertambah tinggilah kehormatanku. Tidak ada yang lebih hina kecuali kalau aku yang mencercanya."
14. Begitu juga kalau orang menipu, menganiaya dan mencuri harta kita, mampukah kita relakan saja atas dasar kita ingin mendapat pahala kerana menanggung kerugian itu?
15. Di waktu kita merasa bersalah dengan seseorang, apakah datang rasa takut akan kemurkaan Allah pada kita dan sanggupkah kita minta maaf sambil mengakui kesalahan kita?
16. Setelah kita melakukan usaha dan ikhtiar dengan kerja-kerja kita, apakah kita dapat melupakan usaha kita itu dan menyerahkannya kepada Allah? Ataukah kita merasa besar dan terikat dengan usaha itu hingga kita merasa senang dan tenang dengan usaha itu?
17. Kalau orang lain mendapat kesenangan dan kejayaan dapatkah kita merasa gembira, turut bersyukur dan mengharapkan kekalnya nikmat itu bersamanya tanpa hasad dengki dan sakit hati?
18. Setiap kali orang bersalah, lahirkah rasa kasihan kita padanya, di samping ingin membetulkannya tanpa menghina dan mengumpatnya?
19. Kalau ada orang memuji kita, adakah kita merasa susah hati sebab pujian itu dapat merosakkan amalan kita? Dapatkah kita bendung hati dari rasa bangga dan sombong, kemudian mengembalikan pujian pada Allah yang patut menerima pujian dan yang mengaruniakan kemuliaan itu?
20. Bolehkah kita menunjukkan rasa kasih sayang dan ramah tamah dengan semua orang sekalipun kepada orang bawahan kita?
21. Selamatkah kita dari jahat (buruk) sangka dan prasangka pada orang lain?
22. Kalau kita diturunkan dari jabatan atau kekayaan kita hilang, selamatkah kita dari rasa kecewa dan putus asa kerana merasakan pemberian jabatan dan penurunannya adalah ketentuan Allah? Sebab itu kita merasa redha.
23. Sanggupkah kita rasa belas kasihan dengan orang lain di waktu orang itu juga memerlukan apa yang kita perlukan?
24. Apakah kita senantiasa puas dan cukup dengan apa yang ada tanpa mengharapkan apa yang tidak ada?
Susah untuk memberi jawapan pada semua persoalan-persoalan yang telah diajukan di atas kerana memang susah untuk melakukan amalan-amalan batin, teramat sulit dan rumit. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak melihat dan tidak memperdulikannya.
Namun, bagi mereka yang betul-betul mau mendekatkan diri pada Allah, di situlah titik tumpuan perhatian dan minatnya. Dia akan berusaha tanpa jemu untuk melakukan amalan-amalan batin dan menyuburkannya sepanjang masa dengan cara melawan hawa nafsu (mujahadatunnafsi). Dia akan mendidik hatinya itu supaya biasa dan suka dengan amalan batin. Bahkan dia sanggup berkorban (mujahadah) untuk itu.
Para ulama berkata:
Perjuangan itu 10 bahagian. Satu bahagian ialah perjuangan menentang musuh-musuh lahir (orang kafir, munafik, Yahudi dan Nasrani), di waktu-waktu yang tertentu saja (bukan sepanjang masa). Manakala sebahagian lagi ialah perjuangan menentang musuh batin (nafsu dan syaitan) yang tiada hentinya yakni sepanjang masa."
Melaksanakan amalan batin memang susah dibandingkan dengan amalan lahir. Tetapi amalan batin itu lebih penting kedudukannya dari amalan yang lain.
Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Bahwasanya Allah tidak memandang akan rupa dan harta kamu, tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.
(Riwayat Muslim)
Dan Allah berfirman:
Terjemahannya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada kaum itu, hinggalah mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka (hati mereka).
(Ar Raad: 11)
Kalau hati kita jahat, Allah tidak akan membantu kita dalam berbagai hal. Kalau hati kita rosak Allah sama sekali tidak akan memandang kita. Begitulah keutamaan amalan batin. Tiap umat Islam wajib melakukannya. Kalau kita lalai ertinya sepanjang hidup kita berada dalam dosa. Dosa batin yang tidak kita sedari.
Marilah kita bersihkan dosa lahir dan dosa batin kita. Mari kita bermujahadah untuk itu. Moga-moga Allah SWT merestui kita:
Terjemahannya: Dan mereka yang bermujahadah dalam jalan Kami, Nisaya Kami tunjukan jalan-jalan Kami itu. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang yang berbuat baik.
(Al Ankabut: 69)
-------------------------------------------------------------------------------
______________________________________________
Bab 2
Bukti-bukti susahnya mengamalkan amalan batin
MENGAMALKAN syariat lahir adalah hal yang sulit. Buktinya lihat saja umat Islam hari ini tidak sedikit yang tidak solat, tidak puasa, tidak membayar zakat, tidak dapat membaca Al Quran, tidak belajar agama, tidak menutup aurat, melakukan pergaulan bebas, ikut sistem riba, berzina, minum minuman keras, menipu, mengadu domba, fitnah-memfitnah dan macam-macam perbuatan yang semuanya sangat bertentangan dengan syariat.
Umat Islam hari ini, yang bangga dengan keIslaman mereka adalah umat Islam yang gagal menegakkan syiar Islam dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat mereka. Bukannya mereka tidak tahu apa itu syariat Islam yang diperintahkan pada mereka, tetapi mereka tidak mampu melaksanakannya. Mereka lemah untuk melawan tuntutan hawa nafsu dan syaitan yang kuat menarik kepada jalan-jalan kejahatan dan kerusakan.
Begitulah susahnya untuk mengamalkan syariat Islam dan itu menjadi masalah besar yang dihadapi oleh mayoritas umat Islam hari ini.
Namun, mengamalkan syariat batin jauh lebih susah daripada syariat lahir. Sebab amalan batin merupakan ilmu rasa (zauk) dan bukan ilmu kata, bukan sebutan dan teori tetapi merupakan rasa hati. Bukan saja orang yang lemah syariatnya tidak dapat melaksanakan syariat batin bahkan orang yang syariat lahirnya sudah kuat dan bagus masih belum dapat merasakan dan menghayatinya.
Buktinya dapat kita rasakan sendiri. Meskipun sedikit banyak kita sudah melakukan syariat lahir seperti solat fardhu, solat sunat, puasa, zakat, haji, berjuang dan berjihad, belajar ilmu-ilmu agama bahkan mengajar orang lain menutup aurat, berdakwah dan lain-lain, tetapi kita masih lalai dari mengingat Allah dan tidak cinta pada-Nya, tidak ada rasa takut dengan kehebatan Allah serta hina diri dengan Allah. Tidak sabar berhadapan dengan ujian, tidak merasakan kuasa itu di tangan Allah, tidak merasa diri berdosa. Masih suka mengumpat, hasad dengki, cinta dunia, tidak ada rasa belas kasihan, tidak berlapang dada bila berhadapan dengan manusia yang beraneka ragam, sombong, pemarah, pendendam, jahat sangka, serakah, keras kepala, keluh kesah, putus asa, tidak redha dengan takdir, tidak bimbang dengan hari hisab, tidak takut Neraka, tidak rasa rindu dengan Syurga yang penuh kenikmatan.
Kita menganggap kehebatan kita yang membuat diri kita mencapai kejayaan. Kita tidak merasakan bahwa kapan saja Allah bisa datangkan bencana dan mematikan kita. Karena merasa hebat maka kita membuat hutang, gila pangkat, membuat macam-macam rencana, tidak merasa kelemahan diri, tidak senang dengan kata nista orang, tidak senang dengan kelebihan orang yang menandingi kita, rasa menderita dengan kemiskinan, masih benci dengan orang yang tidak beramal (bukan rasa kasihan), masih merasa lebih bila berhadapan dengan orang yang tidak beramal, masih rasa terhina untuk menerima kebenaran dari orang lain, masih berat untuk mengakui kesalahan walaupun sedar kita sudah bersalah.
Jiwa merasa menderita bila dicaci, merasa tenang dan senang hati bila disanjung, merasa bangga bila mendapat nikmat, merasa mahu hidup lebih lama lagi dan merasa menderita bila miskin dan papa. Merasa bangga dengan kelebihan diri, merasa terhina dengan kekurangan, tidak pernah puas (cukup) dengan apa yang ada, tidak merasa berdosa (bersalah), tidak merasa dunia kecil dan hina, tidak merasa akhirat besar, tidak menderita bila berbuat dosa atau kesalahan tetapi menderita bila harta dan jabatannya hilang.
Mereka yang bagus dan kuat syariat lahirnya pun masih belum dapat melaksanakan amalan batin (syariat batin) secara istiqamah dan sungguh-sungguh, apalagi yang amalan lahirnya diabaikan sama sekali. Lebih susah bagi mereka mendapatkan amalan batin.
Kalau diumpamakan syariat itu pohon, maka amalan batin adalah buahnya. Orang yang sudah memiliki pohon pun belum tentu memperoleh buahnya (dan kalaupun dapat buah belum tentu sedap rasa buahnya), apalagi orang yang tidak menanam pohon sama sekali.
Begitulah perbandingannya orang yang tidak bersyariat. Susah sekali baginya untuk merasakan hakikat. Kalau secara lahir dia tidak dapat tunduk pada Allah, tentu batinnya lebih susah untuk diserahkan pada Allah.
Di antara tanda susahnya mendapat hakikat (amalan batin) ialah:
1. Ketika kita solat, secara lahir kita berdiri, rukuk dan sujud dengan mulut memuji dan berdoa pada Allah, tetapi kemanakah hati kita (ingatan dan fikiran)? Apakah juga menghadap Allah, khusyuk dan tawadhuk serta rasa rendah dan hina diri dengan penuh pengabdian dan harapan serta malu dan takut kepada Allah SWT? Ataukah hati terbang merewang ke mana-mana, tidak menghiraukan Allah Yang Maha Perkasa yang sedang disembah?
Begitu juga ketika sedang membaca Al Quran, bertahlil, zikir dan wirid, berselawat dan bertakbir, bertasbih dan bertahmid. Adakah roh kita turut menghayatinya? Atau waktu itu roh sedang merasakan satu perasaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan amalan lahir yang sedang dilakukan?
2. Pernahkah kita merasa indah bila sendirian di tempat sunyi karena mengingat Allah dan menumpukan perhatian sepenuhnya pada-Nya, merasa rendah dan hina diri, menyesali dosa dan kelalaian, mengingati-Nya sambil berniat dengan sungguh-sungguh untuk memperbanyak amal bakti pada-Nya?
3. Kalau ada orang Islam yang sakit menderita atau miskin, adakah hati kita merasa belas kasihan untuk membantu atau menolong mendoakan dari jauh agar dia selamat?
4. Pernahkah pula kita menghitung dosa-dosa lahir dan batin sambil menangis kerana istighfar kita terlalu sedikit dibandingkan dengan dosa kita yang menyebabkan kita nanti jadi bahan bakar api neraka?
5. Selalukah hati kita senantiasa ingat pada mati yang boleh saja mendatangi kita sebentar lagi, kerana memang Tuhan dapat berbuat begitu. Kalau pun kita belum dimatikan, ertinya Tuhan menginginkan kita mencuba lagi untuk mencari jalan mendekatkan diri pada-Nya?
6. Pernahkah kita menghitung berapa banyak harta kita, wang kita, rumah kita, kenderaan kita, perabut rumah kita, pakaian kita, kasut kita, makanan kita dan simpanan kita yang lebih dari keperluan kita walaupun diperoleh dengan cara yang halal? Semua itu akan diperkirakan, dihisab dan ditanya, dicerca dan dihina oleh Allah di padang mahsyar nanti kerana kita membesarkan dunia dan mengecilkan akhirat.
7. Pernahkah kita renungkan orang-orang yang pernah kita perlakukan secara kasar, kita umpat, kita tipu, kita fitnah, kita hina dan kita aniaya. Baik mereka itu adalah suami kita, isteri kita, ibu bapa kita, kaum kerabat kita, sahabat kita, tetangga kita atau siapa saja. Sudahkah kita meminta maaf dan membersihkan dosa dengan manusia di dunia tanpa menunggu tibanya hari yang dahsyat (hari kiamat)?
8. Apabila Allah memberikan rasa sakit pada kita atau pada orang lain yang kita kasihi (apa pun jenis penyakit itu), dapatkah kita tenangkan hati dengan rasa kesabaran dan kesedaran bahawa sakit adalah kifarah (pengampunan) dosa atau sebagai peningkatan derajat dan pangkat di sisi Allah SWT?
9. Ketika menerima takdir atau rezeki yang tidak sesuai dengan kehendak kita, dapatkah kita merasa redha, kerana itulah satu pemberian Allah yang sesuai untuk kita?
10. Di saat sesuatu yang kita inginkan dan cita-citakan tidak kita peroleh, dapatkah kita tenangkan perasaan kita dengan rasa insaf akan kelemahan dan kekurangan diri sebagai hamba Allah yang hina dina, yang menggantungkan hidup mati dan rezeki sepenuhnya pada Allah?
11. Di waktu mendapat nikmat, terasakah di hati bahwa itu adalah sebagai pemberian Allah lalu timbul rasa terima kasih (syukur) pada Allah dan rasa takut kalau-kalau nikmat itu tidak dapat digunakan kerana Allah dan berniat sungguh-sungguh untuk menggunakan nikmat itu hanya untuk Allah?
12. Kalau kita miskin dapatkah kita merasa bahagia dengan kemiskinan itu dan merasa lega kerana tidak perlu lagi mengurus nikmat Allah? Adakah kita merasa bahawa kemiskinan itu menyebabkan kita tidak perlu lagi mengadu dan meminta pada manusia kecuali pada Allah?
13. Kalau ada orang mencerca kita bolehkah hati kita merasa senang dan tenang lalu kita bersikap diam tanpa sakit, susah hati dan dendam. Bahkan kita memaafkan orang itu sambil mendoakan kebaikan untuknya sebab kita merasa bahwa ia telah memberi pahala pada kita melalui cercaannya itu?
Imam As Syafie berpuisi:
"Apabila seorang yang jahat mencerca aku, bertambah tinggilah kehormatanku. Tidak ada yang lebih hina kecuali kalau aku yang mencercanya."
14. Begitu juga kalau orang menipu, menganiaya dan mencuri harta kita, mampukah kita relakan saja atas dasar kita ingin mendapat pahala kerana menanggung kerugian itu?
15. Di waktu kita merasa bersalah dengan seseorang, apakah datang rasa takut akan kemurkaan Allah pada kita dan sanggupkah kita minta maaf sambil mengakui kesalahan kita?
16. Setelah kita melakukan usaha dan ikhtiar dengan kerja-kerja kita, apakah kita dapat melupakan usaha kita itu dan menyerahkannya kepada Allah? Ataukah kita merasa besar dan terikat dengan usaha itu hingga kita merasa senang dan tenang dengan usaha itu?
17. Kalau orang lain mendapat kesenangan dan kejayaan dapatkah kita merasa gembira, turut bersyukur dan mengharapkan kekalnya nikmat itu bersamanya tanpa hasad dengki dan sakit hati?
18. Setiap kali orang bersalah, lahirkah rasa kasihan kita padanya, di samping ingin membetulkannya tanpa menghina dan mengumpatnya?
19. Kalau ada orang memuji kita, adakah kita merasa susah hati sebab pujian itu dapat merosakkan amalan kita? Dapatkah kita bendung hati dari rasa bangga dan sombong, kemudian mengembalikan pujian pada Allah yang patut menerima pujian dan yang mengaruniakan kemuliaan itu?
20. Bolehkah kita menunjukkan rasa kasih sayang dan ramah tamah dengan semua orang sekalipun kepada orang bawahan kita?
21. Selamatkah kita dari jahat (buruk) sangka dan prasangka pada orang lain?
22. Kalau kita diturunkan dari jabatan atau kekayaan kita hilang, selamatkah kita dari rasa kecewa dan putus asa kerana merasakan pemberian jabatan dan penurunannya adalah ketentuan Allah? Sebab itu kita merasa redha.
23. Sanggupkah kita rasa belas kasihan dengan orang lain di waktu orang itu juga memerlukan apa yang kita perlukan?
24. Apakah kita senantiasa puas dan cukup dengan apa yang ada tanpa mengharapkan apa yang tidak ada?
Susah untuk memberi jawapan pada semua persoalan-persoalan yang telah diajukan di atas kerana memang susah untuk melakukan amalan-amalan batin, teramat sulit dan rumit. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak melihat dan tidak memperdulikannya.
Namun, bagi mereka yang betul-betul mau mendekatkan diri pada Allah, di situlah titik tumpuan perhatian dan minatnya. Dia akan berusaha tanpa jemu untuk melakukan amalan-amalan batin dan menyuburkannya sepanjang masa dengan cara melawan hawa nafsu (mujahadatunnafsi). Dia akan mendidik hatinya itu supaya biasa dan suka dengan amalan batin. Bahkan dia sanggup berkorban (mujahadah) untuk itu.
Para ulama berkata:
Perjuangan itu 10 bahagian. Satu bahagian ialah perjuangan menentang musuh-musuh lahir (orang kafir, munafik, Yahudi dan Nasrani), di waktu-waktu yang tertentu saja (bukan sepanjang masa). Manakala sebahagian lagi ialah perjuangan menentang musuh batin (nafsu dan syaitan) yang tiada hentinya yakni sepanjang masa."
Melaksanakan amalan batin memang susah dibandingkan dengan amalan lahir. Tetapi amalan batin itu lebih penting kedudukannya dari amalan yang lain.
Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Bahwasanya Allah tidak memandang akan rupa dan harta kamu, tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.
(Riwayat Muslim)
Dan Allah berfirman:
Terjemahannya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada kaum itu, hinggalah mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka (hati mereka).
(Ar Raad: 11)
Kalau hati kita jahat, Allah tidak akan membantu kita dalam berbagai hal. Kalau hati kita rosak Allah sama sekali tidak akan memandang kita. Begitulah keutamaan amalan batin. Tiap umat Islam wajib melakukannya. Kalau kita lalai ertinya sepanjang hidup kita berada dalam dosa. Dosa batin yang tidak kita sedari.
Marilah kita bersihkan dosa lahir dan dosa batin kita. Mari kita bermujahadah untuk itu. Moga-moga Allah SWT merestui kita:
Terjemahannya: Dan mereka yang bermujahadah dalam jalan Kami, Nisaya Kami tunjukan jalan-jalan Kami itu. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang yang berbuat baik.
(Al Ankabut: 69)
-------------------------------------------------------------------------------
Dunia boleh dicari, tapi biar ditangan, tidak dihati.
Sunday, 10 June 2012
3-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI - Bab 1 Amalan lahir Syariat, amalan batin hakikat
Bab 1
Amalan lahir Syariat, amalan batin hakikat
SYARIAT ialah amalan-amalan lahir yang diperintahkan kepada umat Islam baik wajib mahupun sunat. Dan apa saja yang dilarang baik yang haram atau makruh termasuk juga amalan-amalan yang kedudukannya mubah (harus).
Syariat lahir terbagi dua:
1. Hablumminallah
2. Hablumminannas
Hablumminallah ialah amalan-amalan yang termasuk persoalan ibadah. Contohnya solat, puasa, zakat, haji, baca Al Quran, doa, zikir, tahlil, selawat dan lain-lain.
Hablumminannas ialah amalan-amalan lahir kita yang termasuk dalam bidang-bidang muamalat ( kerja-kerja yang ada hubungannya dengan masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan) dan jenayah serta tarbiah Islamiah, soal-soal siasah, fisabilillah, jihad dan persoalan alam serta isinya.
Sedangkan HAKIKAT ialah amalan batin yang diperintahkan ataupun yang dilarang oleh Allah SWT kepada umat Islam. Amalan yang diperintahkan, dikenal sebagai sifat mahmudah (sifat-sifat terpuji) dan yang dilarang ialah sifat mazmumah (sifat-sifat terkeji).
Hakikat juga terbagi dua:
1. Berakhlak dengan Allah
2. Berakhlak dengan manusia
Bentuk-bentuk akhlak dengan Allah di antaranya ialah:
Mengenal Allah dengan yakin
Merasakan kehebatan Allah
Merasa gentar dengan Neraka Allah
Merasa senantiasa diawasi oleh Allah
Merasa hina diri dan malu dengan Allah
Merasa redha terhadap setiap takdir dan ketentuan Allah SWT
Sabar dengan berbagai ujian Allah
Mensyukuri nikmat-nikmat pemberian Allah
Mencintai Allah
Merasa takut pada Allah atas kelalaian dan dosa-dosa
Tawakal kepada Allah
Merasa harap pada rahmat Allah
Rindu pada Allah
Senantiasa mengingati Allah
Rindu pada syurga Allah kerana ingin bertemu dengan-Nya
Bentuk-bentuk akhlak kepada manusia:
Mengasihinya sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri
Merasa gembira di atas kegembiraannya dan turut berdukacita kerana kedukacitaannya
Menginginkan kebahagiaan untuknya di samping berharap agar musibah menjauhinya
Benci pada kejahatannya tetapi kasihan pada dirinya hingga timbul perasaan untuk menasihatinya
Pemurah padanya
Bertenggang rasa dengannya
Mengenang jasanya dan berusaha membalasnya karena Allah
Memaafkan kesalahannya dan sanggup meminta maaf atas kesalahan padanya
Kebaikannya disanjung dan diikuti, kejahatannya dinasehati dan dirahasiakan. Lapang dada berhadapan dengan macam-
macam manusia
Bersikap baik sangka kepada sesama orang Islam
Tawadhuk dengan sesama manusia
Keduanya, syariat dan hakikat adalah perkara yang sangat penting untuk membentuk peribadi yang benar-benar bertakwa dan terlepas dari sifat-sifat munafik.
Kita wajib mengamalkan keduanya secara serentak dan seiring. Namun mesti diakui bahawa tidak mudah bagi kita untuk mengamalkannya.
Allah SWT menjelaskan hal itu dengan firman-Nya dalam surah Al Baqarah:
Terjemahannya: Mintalah bantuan dalam urusanmu dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu adalah sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk iaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahawa kepada-Nya lah mereka akan kembali.
(Al Baqarah: 45)
Allah SWT mengatakan untuk menjadi orang yang sabar itu susah dan untuk menjadi orang-orang yang tetap mengerjakan solat itu juga susah. Maknanya amalan lahir dan batin itu memang susah untuk diamalkan. Tetapi hal itu menjadi mudah bila kita dapat memiliki sesuatu yang lebih penting dari keduanya iaitu rasa khusyuk dengan Allah (rasa diawasi Allah setiap masa), yakni yakin dengan pertemuan dan pengembalian diri ke hadirat Allah SWT di akhirat nanti.
Dari situ kita akan faham bahawa di antara amalan lahir dan batin, yang mesti diberatkan dan didahulukan pada diri kita ialah amalan batin. Kita berusaha dulu mendapatkan rasa khusyuk atau yakin akan kewujudan Allah serta pertemuan kembali kita dengan-Nya di satu hari nanti, barulah kita akan memiliki kekuatan untuk mengamalkan syariat dan hakikat.
Tanpa rasa khusyuk itu, kita tidak akan dapat mengalahkan hawa nafsu dan syaitan yang senantiasa bersungguh-sungguh mengajak kita menderhakai Allah.
Itulah panduan kita untuk memperjuangkan Islam dalam diri kita. Yang mesti didahulukan ialah berusaha supaya hati kita berubah, dari hati yang tidak kenal Allah kepada hati yang khusyuk dan cinta kepada Allah. Dari hati yang lalai kepada hati yang senantiasa mengingat Allah.
Bila hati sudah cinta pada Allah, kita akan merasa ringan dalam menerima dan mengamalkan syariat Allah lahir dan batin.
Amalan lahir Syariat, amalan batin hakikat
SYARIAT ialah amalan-amalan lahir yang diperintahkan kepada umat Islam baik wajib mahupun sunat. Dan apa saja yang dilarang baik yang haram atau makruh termasuk juga amalan-amalan yang kedudukannya mubah (harus).
Syariat lahir terbagi dua:
1. Hablumminallah
2. Hablumminannas
Hablumminallah ialah amalan-amalan yang termasuk persoalan ibadah. Contohnya solat, puasa, zakat, haji, baca Al Quran, doa, zikir, tahlil, selawat dan lain-lain.
Hablumminannas ialah amalan-amalan lahir kita yang termasuk dalam bidang-bidang muamalat ( kerja-kerja yang ada hubungannya dengan masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan) dan jenayah serta tarbiah Islamiah, soal-soal siasah, fisabilillah, jihad dan persoalan alam serta isinya.
Sedangkan HAKIKAT ialah amalan batin yang diperintahkan ataupun yang dilarang oleh Allah SWT kepada umat Islam. Amalan yang diperintahkan, dikenal sebagai sifat mahmudah (sifat-sifat terpuji) dan yang dilarang ialah sifat mazmumah (sifat-sifat terkeji).
Hakikat juga terbagi dua:
1. Berakhlak dengan Allah
2. Berakhlak dengan manusia
Bentuk-bentuk akhlak dengan Allah di antaranya ialah:
Mengenal Allah dengan yakin
Merasakan kehebatan Allah
Merasa gentar dengan Neraka Allah
Merasa senantiasa diawasi oleh Allah
Merasa hina diri dan malu dengan Allah
Merasa redha terhadap setiap takdir dan ketentuan Allah SWT
Sabar dengan berbagai ujian Allah
Mensyukuri nikmat-nikmat pemberian Allah
Mencintai Allah
Merasa takut pada Allah atas kelalaian dan dosa-dosa
Tawakal kepada Allah
Merasa harap pada rahmat Allah
Rindu pada Allah
Senantiasa mengingati Allah
Rindu pada syurga Allah kerana ingin bertemu dengan-Nya
Bentuk-bentuk akhlak kepada manusia:
Mengasihinya sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri
Merasa gembira di atas kegembiraannya dan turut berdukacita kerana kedukacitaannya
Menginginkan kebahagiaan untuknya di samping berharap agar musibah menjauhinya
Benci pada kejahatannya tetapi kasihan pada dirinya hingga timbul perasaan untuk menasihatinya
Pemurah padanya
Bertenggang rasa dengannya
Mengenang jasanya dan berusaha membalasnya karena Allah
Memaafkan kesalahannya dan sanggup meminta maaf atas kesalahan padanya
Kebaikannya disanjung dan diikuti, kejahatannya dinasehati dan dirahasiakan. Lapang dada berhadapan dengan macam-
macam manusia
Bersikap baik sangka kepada sesama orang Islam
Tawadhuk dengan sesama manusia
Keduanya, syariat dan hakikat adalah perkara yang sangat penting untuk membentuk peribadi yang benar-benar bertakwa dan terlepas dari sifat-sifat munafik.
Kita wajib mengamalkan keduanya secara serentak dan seiring. Namun mesti diakui bahawa tidak mudah bagi kita untuk mengamalkannya.
Allah SWT menjelaskan hal itu dengan firman-Nya dalam surah Al Baqarah:
Terjemahannya: Mintalah bantuan dalam urusanmu dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu adalah sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk iaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahawa kepada-Nya lah mereka akan kembali.
(Al Baqarah: 45)
Allah SWT mengatakan untuk menjadi orang yang sabar itu susah dan untuk menjadi orang-orang yang tetap mengerjakan solat itu juga susah. Maknanya amalan lahir dan batin itu memang susah untuk diamalkan. Tetapi hal itu menjadi mudah bila kita dapat memiliki sesuatu yang lebih penting dari keduanya iaitu rasa khusyuk dengan Allah (rasa diawasi Allah setiap masa), yakni yakin dengan pertemuan dan pengembalian diri ke hadirat Allah SWT di akhirat nanti.
Dari situ kita akan faham bahawa di antara amalan lahir dan batin, yang mesti diberatkan dan didahulukan pada diri kita ialah amalan batin. Kita berusaha dulu mendapatkan rasa khusyuk atau yakin akan kewujudan Allah serta pertemuan kembali kita dengan-Nya di satu hari nanti, barulah kita akan memiliki kekuatan untuk mengamalkan syariat dan hakikat.
Tanpa rasa khusyuk itu, kita tidak akan dapat mengalahkan hawa nafsu dan syaitan yang senantiasa bersungguh-sungguh mengajak kita menderhakai Allah.
Itulah panduan kita untuk memperjuangkan Islam dalam diri kita. Yang mesti didahulukan ialah berusaha supaya hati kita berubah, dari hati yang tidak kenal Allah kepada hati yang khusyuk dan cinta kepada Allah. Dari hati yang lalai kepada hati yang senantiasa mengingat Allah.
Bila hati sudah cinta pada Allah, kita akan merasa ringan dalam menerima dan mengamalkan syariat Allah lahir dan batin.
Saturday, 9 June 2012
MINYAK WANGI PELBAGAI JENIS (RM10 SEBOTOL)
Untuk mereka yang ingin mempunyai koleksi minyak wangi yang pelbagai.
10 Haruman terkini seperti gambar2 dibawah
5 wangian (asli) ,(botol comel warna-warni )
1- 2000 bunga, 2- Kasturi Putih,
3- Al Sultan, 4- Eternal For Women,
5 - YSL
5 wangian yang berbau lembut dari asal (botol tinggi transparent, tudung warna warni)
1- Al Sultan, 2- Haji, 3- Melor,
4- Sultana J, 5- Kasturi Kijang (G Manggo)
(Ini adalah untuk penggemar minyak wangi yang berbau lembut)
TAWARAN ISTIMEWA HINGGA RAMADAN 1433H, BELI MANA-MANA 5 BOTOL DARI 10 JENIS WANGIAN TERPILIH INI DENGAN HANYA RM50, BELANJA POS DIKECUALIKAN.
UNTUK SABAH SARAWAK, HANYA RM55, TERMASUK BELANJA POS.
Untuk tempahan sila ke sidebar di sebelah kanan!! (tempahan online) Jangan tunggu lama-lama....
| Botel comel warna-warni (asli) dan botol tinggi transparent (bau yang dilembutkan). |
| Botol Comel warna-warni |
Friday, 8 June 2012
2-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI
2-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI
Muqaddimah
ISLAM yang telah Allah redhakan untuk menjadi agama kita, dan disampaikan melalui utusan-Nya Nabi Muhammad SAW merupakan satu syariat yang merangkupi persoalan hidup lahir dan batin. Syariat lahir disebut syariat. Syariat batin disebut hakikat. Hal itu sangat sesuai dengan struktur kejadian manusia itu sendiri yang merupakan kombinasi antara jasad lahir dan jasad batin.
Jasad lahir adalah semua anggota tubuh kita yang nampak dengan mata. Sedangkan jasad batin adalah jasad ghaib yang menggerakkan seluruh anggota lahir. Jasad batin dapat merasa, mengingat, memikirkan, mengetahui, memahami segala sesuatu yang terjadi di dalam diri kita masing-masing. Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir untuk diamalkan oleh jasad lahir sedangkan syariat batin untuk diamalkan oleh jasad batin iaitu ruh.
Sesuai dengan keadaan lahir batin kita yang saling berkaitan erat tanpa terpisah-pisah maka begitu pula amalan lahir dan batin wajib dilaksanakan secara serentak di setiap waktu dan keadaan. Kalau kita membeza-bezakan atau menolak salah satu dari amalan itu, maka kita tidak mungkin menjadi hamba Allah yang sebenarnya sebab Islam memandang syariat itu sebagai kulit, sedangkan hakikat itu adalah intipatinya.
Kedua-duanya sama-sama penting dan saling memerlukan, ibarat kulit dan isi pada buah-buahan. Keduanya mesti ada untuk kesempurnaan wujud buah itu sendiri. Tanpa kulit, isi tidak selamat malah isi tidak mungkin ada kalau kulit tidak ada. Sebaliknya tanpa isi, kulit jadi tidak bererti apa-apa. Sebab buah yang dimakan adalah isinya bukan kulitnya.
Begitu juga hubungan syariat dan hakikat. Keduanya mesti diterima dan diamalkan serentak. Keduanya saling mengisi dan memerlukan. Kalau kita bersyariat saja (ertinya berkulit saja tanpa isi), itu tidak membawa erti apa-apa di sisi Allah.
Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.
(Riwayat: Muslim)
Sebaliknya kalau kita berhakikat saja (isi tanpa kulit), maka tidak ada jaminan keselamatan dari Allah SWT. Hakikat itu akan mudah rosak, dan kita sama sekali tidak akan memperoleh apa-apa, bahkan agama Islam yang kita anut akan rosak tanpa kita sedari.
Berkata Imam Malik Rahimahullahu Taala:
Terjemahannya: Barangsiapa berfeqah (syariat) dan tidak bertasawuf maka ia jadi fasik. Barangsiapa yang bertasawuf (hakikat) tanpa feqah maka ia adalah kafir zindik.
Ertinya kita mesti mengamalkan keduanya sekaligus, iaitu syariat dan hakikat. Kalau kita pilih salah satu, kita tidak akan selamat. Kalau kita bersyariat saja tanpa dilindungi oleh hakikat, kita akan menjadi fasik. Dan kalau kita berhakikat saja tanpa dikawal oleh syariat, maka hakikat itu akan mudah rosak sehingga kita jatuh kafir zindik (kafir tanpa sedar).
Begitulah pentingnya syariat dan hakikat. Tetapi bila kedua-duanya ada, maka hakikatlah yang lebih utama.
Seperti dalam sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.
(Riwayat: Muslim)
Hadits itu tidak bermaksud bahwa syariat tidak penting. Bahkan syariat juga adalah hukum-hukum fardhu yang wajib diamalkan oleh seluruh umat Islam. Hanya saja dalam keadaan keduanya (syariat dan hakikat) itu sama-sama diamalkan, Allah memberi keutamaan pada amalan hakikat. Perbandingannya seperti antara kulit dan isi buah. Kedua-duanya sama penting, tetapi manusia memberi keutamaan pada isi sebab boleh dimakan.
Begitulah peranan hakikat. Peranannya menentukan berakhlak atau tidaknya seorang manusia kepada Allah dan kepada sesama manusia. Orang yang kuat amalan batinnya atau tinggi pencapaian tasawufnya adalah orang yang hatinya selalu dekat dengan Allah. Ia sentiasa merasakan kebesaran Allah, dibandingkan dirinya yang maha lemah dan sentiasa memerlukan pertolongan Allah. Ia sangat beradab dengan Allah dan dapat mengorbankan dunia untuk Tuhannya. Ia juga mampu mengasihi semua manusia, bersedia susah untuk manusia dan akan menyelamatkan manusia dari tipuan dunia, nafsu dan syaitan.
ISLAM yang telah Allah redhakan untuk menjadi agama kita, dan disampaikan melalui utusan-Nya Nabi Muhammad SAW merupakan satu syariat yang merangkupi persoalan hidup lahir dan batin. Syariat lahir disebut syariat. Syariat batin disebut hakikat. Hal itu sangat sesuai dengan struktur kejadian manusia itu sendiri yang merupakan kombinasi antara jasad lahir dan jasad batin.
Jasad lahir adalah semua anggota tubuh kita yang nampak dengan mata. Sedangkan jasad batin adalah jasad ghaib yang menggerakkan seluruh anggota lahir. Jasad batin dapat merasa, mengingat, memikirkan, mengetahui, memahami segala sesuatu yang terjadi di dalam diri kita masing-masing. Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir untuk diamalkan oleh jasad lahir sedangkan syariat batin untuk diamalkan oleh jasad batin iaitu ruh.
Sesuai dengan keadaan lahir batin kita yang saling berkaitan erat tanpa terpisah-pisah maka begitu pula amalan lahir dan batin wajib dilaksanakan secara serentak di setiap waktu dan keadaan. Kalau kita membeza-bezakan atau menolak salah satu dari amalan itu, maka kita tidak mungkin menjadi hamba Allah yang sebenarnya sebab Islam memandang syariat itu sebagai kulit, sedangkan hakikat itu adalah intipatinya.
Kedua-duanya sama-sama penting dan saling memerlukan, ibarat kulit dan isi pada buah-buahan. Keduanya mesti ada untuk kesempurnaan wujud buah itu sendiri. Tanpa kulit, isi tidak selamat malah isi tidak mungkin ada kalau kulit tidak ada. Sebaliknya tanpa isi, kulit jadi tidak bererti apa-apa. Sebab buah yang dimakan adalah isinya bukan kulitnya.
Begitu juga hubungan syariat dan hakikat. Keduanya mesti diterima dan diamalkan serentak. Keduanya saling mengisi dan memerlukan. Kalau kita bersyariat saja (ertinya berkulit saja tanpa isi), itu tidak membawa erti apa-apa di sisi Allah.
Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.
(Riwayat: Muslim)
Sebaliknya kalau kita berhakikat saja (isi tanpa kulit), maka tidak ada jaminan keselamatan dari Allah SWT. Hakikat itu akan mudah rosak, dan kita sama sekali tidak akan memperoleh apa-apa, bahkan agama Islam yang kita anut akan rosak tanpa kita sedari.
Berkata Imam Malik Rahimahullahu Taala:
Terjemahannya: Barangsiapa berfeqah (syariat) dan tidak bertasawuf maka ia jadi fasik. Barangsiapa yang bertasawuf (hakikat) tanpa feqah maka ia adalah kafir zindik.
Ertinya kita mesti mengamalkan keduanya sekaligus, iaitu syariat dan hakikat. Kalau kita pilih salah satu, kita tidak akan selamat. Kalau kita bersyariat saja tanpa dilindungi oleh hakikat, kita akan menjadi fasik. Dan kalau kita berhakikat saja tanpa dikawal oleh syariat, maka hakikat itu akan mudah rosak sehingga kita jatuh kafir zindik (kafir tanpa sedar).
Begitulah pentingnya syariat dan hakikat. Tetapi bila kedua-duanya ada, maka hakikatlah yang lebih utama.
Seperti dalam sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.
(Riwayat: Muslim)
Hadits itu tidak bermaksud bahwa syariat tidak penting. Bahkan syariat juga adalah hukum-hukum fardhu yang wajib diamalkan oleh seluruh umat Islam. Hanya saja dalam keadaan keduanya (syariat dan hakikat) itu sama-sama diamalkan, Allah memberi keutamaan pada amalan hakikat. Perbandingannya seperti antara kulit dan isi buah. Kedua-duanya sama penting, tetapi manusia memberi keutamaan pada isi sebab boleh dimakan.
Begitulah peranan hakikat. Peranannya menentukan berakhlak atau tidaknya seorang manusia kepada Allah dan kepada sesama manusia. Orang yang kuat amalan batinnya atau tinggi pencapaian tasawufnya adalah orang yang hatinya selalu dekat dengan Allah. Ia sentiasa merasakan kebesaran Allah, dibandingkan dirinya yang maha lemah dan sentiasa memerlukan pertolongan Allah. Ia sangat beradab dengan Allah dan dapat mengorbankan dunia untuk Tuhannya. Ia juga mampu mengasihi semua manusia, bersedia susah untuk manusia dan akan menyelamatkan manusia dari tipuan dunia, nafsu dan syaitan.
Sebaliknya orang yang lemah dalam amalan batin adalah orang yang hatinya jauh dan terpisah dari Allah. Ia tidak takut dengan Allah, tidak malu, tidak harap, dan tidak cinta kepada Allah. Ia tidak redha dan tidak sabar, kurang beradab dengan Allah, penuh hasad dengki, sombong, bakhil, dendam dan pemarah. Ia akan menjadi seorang pencinta dunia yang bekerja keras hanya untuk dunianya. Orang seperti itu selalu dibelenggu oleh kecintaan kepada dunia hingga takut berjuang dan berjihad untuk agama Allah serta untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Orang yang tidak berhakikat, sekalipun melakukan ibadah solat, puasa, dan banyak membaca Al Quran serta gigih berjuang adalah orang yang kurang berakhlak dengan Allah dan kurang berakhlak dengan manusia.
Kurangnya amalan batin dapat menyebabkan orang-orang yang tidak berhakikat itu biasanya mati dalam dosa yang tidak sedar. Mungkin dosa kerana buruk sangka dengan Allah, putus asa dengan ketentuan Allah, tidak redha dengan takdir Allah atau dosa kerana merasa bahwa amalannya lah yang akan menyelamatkan dirinya dari neraka Allah.
Rasa riya', ujub atau merasa diri bersih itu pun adalah dosa batin. Dosa batin, tak seorang pun yang dapat melihatnya, bahkan diri sendiri pun tidak dapat merasakannya. Hanya orang yang mempunyai basirah (pandangan hati yang tembus) saja yang dapat mengetahuinya.
Nanti, bila Allah bukakan segala kesalahan (dosa-dosa batin itu) di akhirat, barulah manusia akan terkejut dan tersentak.
Ulama tasawuf berkata:
"Biarlah sedikit amalan beserta rasa takut pada Allah, kerana itu lebih baik daripada banyak amalan tetapi tidak ada rasa takut dengan Allah. Lebih baik orang yang merasa berdosa dan bersalah dengan Allah daripada orang yang banyak amalan tetapi tidak rasa berdosa pada Allah bahkan dia merasa telah cukup dengan amalan itu."
Firman Allah:
Terjemahannya: Hari kiamat ialah hari di mana harta dan anak-anak tidak dapat memberi manfaat, kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera.
(Asy Syuara: 88-89)
Hati yang selamat sejahtera ialah hati orang bertaqwa yang berisi iman, yakin, ikhlas, redha, sabar, syukur, tawakal, takut, harap dan lain-lain rasa hati dengan Allah SWT. Hati yang senantiasa merasa sehat dalam kesakitan, kaya dalam kemiskinan, ramai dalam kesendirian, lapang dalam kesempitan dan terhibur dalam kesusahan. Ia bersikap redha dengan apa saja pemberian Tuhan-Nya.
"Biarlah sedikit amalan beserta rasa takut pada Allah, kerana itu lebih baik daripada banyak amalan tetapi tidak ada rasa takut dengan Allah. Lebih baik orang yang merasa berdosa dan bersalah dengan Allah daripada orang yang banyak amalan tetapi tidak rasa berdosa pada Allah bahkan dia merasa telah cukup dengan amalan itu."
Firman Allah:
Terjemahannya: Hari kiamat ialah hari di mana harta dan anak-anak tidak dapat memberi manfaat, kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera.
(Asy Syuara: 88-89)
Hati yang selamat sejahtera ialah hati orang bertaqwa yang berisi iman, yakin, ikhlas, redha, sabar, syukur, tawakal, takut, harap dan lain-lain rasa hati dengan Allah SWT. Hati yang senantiasa merasa sehat dalam kesakitan, kaya dalam kemiskinan, ramai dalam kesendirian, lapang dalam kesempitan dan terhibur dalam kesusahan. Ia bersikap redha dengan apa saja pemberian Tuhan-Nya.
Untuk memperoleh hati yang seperti itu, kita mesti bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu untuk melakukan amalan lahir dan batin (syariat dan hakikat). Kedua-duanya akan saling mengawal untuk mengangkat kita ke taraf taqwa.
Syariat dan hakikat akan mendidik dan memimpin kita menjadi seorang insan kamil yang mampu memenuhi keinginan dan keperluan fitrah murni manusia secara suci lagi mulia. Orang seperti itulah yang Allah maksudkan sebagai golongan As Siddiqin atau golongan Al 'Arifin. Sifat mereka Allah uraikan dalam Surah Al Furqaan ayat 63-74:
Terjemahannya: Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang (hamba-hamba yang baik) itu ialah mereka yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Terjemahannya: Dan mereka yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (orang-orang yang melakukan solat tahajjud di malam hari semata-mata kerana Allah).
Terjemahannya: Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami. Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal."
Terjemahannya: Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
Terjemahannya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) bakhil, dan adalah (perbelanjaan itu) pertengahan.
Terjemahannya: Dan mereka juga tidak mengharap (menyembah) yang lain di samping Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (orang Islam) kecuali yang dibenarkan syarak (pembunuh, penzina, murtad) dan tidak juga berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu nescaya dia akan menerima pembalasan dosanya.
Terjemahannya: (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.
Terjemahannya: Kecuali mereka yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh, kejahatan mereka Allah gantikan dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Terjemahannya: Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal soleh maka sesungguhnya mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Terjemahannya: Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Terjemahannya: Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka tidak menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
Terjemahannya: Dan orang-orang yang sering berdoa, "Ya Tuhan kami anugerahkanlah kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa."
Merekalah orang-orang bertaqwa yang akan memperoleh ketenangan hidup di dunia dan di akhirat. Mereka adalah tempat untuk kita mempelajari dan mencontoh kehidupan yang aman dan bahagia. Suasana seperti itu pernah terjadi, iaitu dalam kehidupan salafussoleh. Mereka telah menjalani suatu kehidupan, di mana mereka menerima dan mengamalkan sepenuhnya kehendak syariat dan hakikat. Hasilnya, mereka (para salafussoleh) menjadi orang-orang yang bahagia dan membahagiakan orang lain.
Sejarah 15 abad yang silam memberitahu kepada kita bahwa 3/4 dunia menjadi tenang, aman dan damai di bawah pemerintahan mereka. Kawan mahupun lawan merasa selamat berada di dalam kekuasaan mereka. Demikianlah satu kenyataan yang membuktikan bahawa sekiranya manusia patuh menjalani syariat lahir dan batin, maka selamat dan berbahagialah mereka di dunia dan di akhirat.
Allah berfirman:
Terjemahannya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal soleh di antara kamu bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia akan menegakkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.
(An Nur: 55)
Terjemahannya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal soleh di antara kamu bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia akan menegakkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.
(An Nur: 55)
__._,_.___
1-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI
Wahai pembaca atau teman yang dikasihi sekelian,
Untuk pengetahuan semua. Buku 'Mengenal Diri Melalui Rasa Hati' adalah salah sebuah buku yang begitu berjaya membuat jiwaku berubah daripada tidak faham apa itu 'hakikat' kepada ingin belajar dan berguru tentang 'hakikat'. Hasilnya secara sedikit demi sedikit, kumulai faham akan segala kelemahan dan kekurangan diri, jadi di situ, bermulalah satu 'titik' untuk berubah atau membaiki diri. Sebelum membaca buku tersebut, naluri ini, apabila sudah beramal, akan terasa diri sudah baik, apabila membuat kebaikan WALAUPUN HANYA SECEBIS sudah ada rasa bangga diri, apatah lagi kalau dipuji orang...
Tetapi apabila membaca buku 'Mengenal Diri Melalui Rasa Hati' ini ( akan dikongsikan kepada pembaca dengan izin Allah swt), 'hakikat' sebenarnya adalah berlainan daripada apa yang kita fikirkan...
Marilah kita sama-sama menghayatinya, moga menjadi saham bersama hingga ke akhirat kelak, ilmu yang bermanfaat itu akan membantu kita di alam sana...yang kekal abadi...ramai sudah ke sana, giliran kita pasti tiba....Yang menakutkan, apakah bekalan kita sudah cukup!!!!
_______________________________________________________________________________
1-MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI
Prakata
SAUDARA,
Sedang terjadi di depan mata kita penyakit-penyakit jiwa yang melanda masyarakat, seperti putus asa, kecewa, resah-gelisah, penderitaan jiwa, fikiran kacau-bilau, rasa rendah diri (inferiority complex), kesunyian, kekosongan hati, rasa kesepian (loneliness), ketegangan perasaan dan bermacam-macam lagi bentuk sakit jiwa. Keadaan itu semakin menjadi buruk bila ditambah dengan penyakit-penyakit jiwa lainnya, seperti hasad dengki, bakhil, gila dunia, pendendam, cepat marah, jahat sangka, sombong, riya', ‘ujub dan lain-lain yang semakin bermaharajalela di dalam masyarakat.
Walaupun sakitnya tidak dapat dilihat oleh mata kita, namun siapa yang berani menolak keadaan itu? Orang-orang yang menderita sakit atau krisis jiwa saat ini lebih banyak dari jumlah penderita-penderita sakit fisikal yang ada di rumah sakit-rumah sakit. Anehnya, para pakar dan kaum intelektual tidak terlalu serius untuk memikirkan cara perubatan pesakit penyakit batin itu, sebagaimana mereka serius berusaha dalam perubatan fisikal lahiriah manusia.
Saudara,
Apakah mereka tidak sedar bahawa pesakit yang menghidapi penyakit jantung, ginjal, kencing manis, barah dan lain-lain itu tidak pernah bunuh diri dan membunuh orang lain? Tetapi penyakit batin, sakit jiwa, kekosongan, rendah diri, putus asa, hasad dengki, dendam, pemarah, buruk sangka dan lain-lain itu dapat menyebabkan manusia membunuh diri sendiri atau membunuh orang lain.
SAUDARA,
Sedang terjadi di depan mata kita penyakit-penyakit jiwa yang melanda masyarakat, seperti putus asa, kecewa, resah-gelisah, penderitaan jiwa, fikiran kacau-bilau, rasa rendah diri (inferiority complex), kesunyian, kekosongan hati, rasa kesepian (loneliness), ketegangan perasaan dan bermacam-macam lagi bentuk sakit jiwa. Keadaan itu semakin menjadi buruk bila ditambah dengan penyakit-penyakit jiwa lainnya, seperti hasad dengki, bakhil, gila dunia, pendendam, cepat marah, jahat sangka, sombong, riya', ‘ujub dan lain-lain yang semakin bermaharajalela di dalam masyarakat.
Walaupun sakitnya tidak dapat dilihat oleh mata kita, namun siapa yang berani menolak keadaan itu? Orang-orang yang menderita sakit atau krisis jiwa saat ini lebih banyak dari jumlah penderita-penderita sakit fisikal yang ada di rumah sakit-rumah sakit. Anehnya, para pakar dan kaum intelektual tidak terlalu serius untuk memikirkan cara perubatan pesakit penyakit batin itu, sebagaimana mereka serius berusaha dalam perubatan fisikal lahiriah manusia.
Saudara,
Apakah mereka tidak sedar bahawa pesakit yang menghidapi penyakit jantung, ginjal, kencing manis, barah dan lain-lain itu tidak pernah bunuh diri dan membunuh orang lain? Tetapi penyakit batin, sakit jiwa, kekosongan, rendah diri, putus asa, hasad dengki, dendam, pemarah, buruk sangka dan lain-lain itu dapat menyebabkan manusia membunuh diri sendiri atau membunuh orang lain.
Itulah satu bukti bahwa penyakit-penyakit batin sebenarnya memerlukan perhatian dan perawatan yang lebih serius daripada penyakit-penyakit lahir. Bukan saja kerana penyakit batin lebih menyiksa individu, tetapi akan dapat menyebabkan kekacauan, dan rosaknya sebuah masyarakat.
Telah datang Nabi Muhammad SAW ke tengah manusia. Beliau melihat kekacauan dan kemungkaran yang sedang meracuni kehidupan masyarakatnya. Seorang diri Rasulullah SAW bangun dan bekerja untuk menyelamatkan manusia. Institusi pertama yang beliau dirikan adalah masjid, tempat untuk manusia membersihkan, melembutkan dan menenangkan hatinya, melapangkan dadanya, membebaskan diri dari ikatan dunia, dengan membesarkan Tuhan melalui sembahyang dan ibadah-ibadah lain.
Rasulullah mengutamakan keselamatan manusia pada keselamatan hatinya (ruhnya) bukan jasad lahirnya. Sebab itu Baginda berusaha mengubah dan mengubati hati mereka hingga Baginda mencapai kejayaan.
Saudara,
Krisis yang kita saksikan dalam masyarakat sekarang ini merupakan peristiwa yang disaksikan oleh Rasulullah 1400 tahun yang silam. Kalau Rasulullah mencapai kejayaan dalam mendidik masyarakat, mengapa kita tidak mengikuti jejak Baginda?
Kita ubati dulu penyakit hati dan krisis jiwa pada diri kita, anggota keluarga kita dan masyarakat kita. Kita ketengahkan pada masyarakat pengertian hidup yang hakiki yang dapat mengembalikan manusia pada fitrahnya.
Kita contohkan satu formula yang menjamin kebahagiaan dan keselamatan hati. Kita perjuangkan kehidupan 'sunnah' yang akan membawa manusia kepada syurga dunia dan akhirat.
Saudara,
Mana ada selain Islam satu cara hidup yang dapat menjadikan diri kita terhibur dengan kemiskinan, kesunyian, kesakitan, kesepian, kematian orang yang dikasihi, kegagalan dan dengan segala bentuk ujian. Mana ada selain Islam cara hidup yang mengikat hati antara suami dengan isteri, anak dengan ibu-bapa, pengikut dengan pemimpin, pekerja dengan majikan? Mana ada selain Islam cara hidup yang mengajar kita berkasih-sayang, bertimbang rasa, pemurah, berbaik sangka dan tolong menolong?
Mana ada selain Islam cara hidup yang membangkitkan cinta agung manusia pada Penciptanya sehingga manusia akan mengorbankan hidup untuk Tuhannya dan menanti kematian bagaikan penantian seorang kekasih untuk bertemu dengan kekasihnya?
Saudara,
Islam mengajak kita untuk meniliti dan mengenal hati kita serta mengubati penyakitnya. Apabila hati sudah diubati, maka hati kita akan penuh dengan 'cahaya' kebahagiaan, ketenangan dan ketenteraman. Itulah syurga sementara sebelum kita bertemu Allah untuk menerima syurga yang kekal abadi.
Buku Mengenal Diri Melalui Rasa Hati ini menunjukkan jalan bagi saya dan saudara untuk melegakan krisis jiwa, ketegangan fikiran dan mencegah kejahatan batin kita. Insya Allah, mudah-mudahan kita akan memperolehi keselamatan dan kebahagiaan hidup sebagaimana yang Allah janjikan.
Dengan berkat kebesaranMu ya Allah, Nabi dan RasulMu Muhammad SAW serta keluarga dan sahabat Beliau, Ya Allah jadikanlah buku ini sebagai ubat bagi jiwa kami dan selamatkanlah hati-hati kami sebagaimana keselamatan yang Engkau maksudkan dalam firmanMu:
Terjemahannya:
"Hari kiamat yaitu hari (ketika manusia meninggalkan dunia ini) di mana harta dan anak tidak berguna lagi kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat."
(Asy Syuara’: 88 - 89)
"Ya Allah, terimalah amalanku ini sebagai amal soleh dan pahalanya kuhadiahkan kepada almarhum ayahanda dan bunda serta guru-guru tercinta. Dan Ya Allah, dengan buku ini, jadikan kami cinta padaMu dan agamaMu dan lebih gigih lagi berjuang untuk menegakkan kalimahMu."
Wabillahil hidayah wat-taufik.
Hamba yang mengharapkan keampunan Tuhan
Ashaari Muhammad
(Asy Syuara’: 88 - 89)
"Ya Allah, terimalah amalanku ini sebagai amal soleh dan pahalanya kuhadiahkan kepada almarhum ayahanda dan bunda serta guru-guru tercinta. Dan Ya Allah, dengan buku ini, jadikan kami cinta padaMu dan agamaMu dan lebih gigih lagi berjuang untuk menegakkan kalimahMu."
Wabillahil hidayah wat-taufik.
Hamba yang mengharapkan keampunan Tuhan
Ashaari Muhammad
TANDA-TANDA SESEORANG ITU DIGANGGU MAKHLUK HALUS
Bersyukur kita kehadrat Allah swt. Ini adalah sedikit perkongsian daripada rakanku yang prihatin, jadi moga ia bermanfaat untuk dijadikan panduan.
Setiap penyakit atau gangguan itu ada penawar atau ubatnya.
Tentulah seseorang itu perlu berusaha.
Kaedah perawatan juga banyak cara, kita tak kan tahu mana satu yang sesuai atau serasi dengan diri kita melainkan kita sudah mencubanya.
Biasanya....apabila Allah ingin menguji kita atau makhluk itu ingin menguasai kita, kaedah yang tepat itulah yang dirasakan tidak sesuai....jadi berlama-lamalah kita diuji, sebab itulah kita jangan tertipu dengan perasaan kita, apabila sudah diganggu perasaan sudah bercampur-baur, perlu ada orang lain yang menilai atau menasihati....(semua ini adalah dengan keizinan Allah swt)
Biasanya orang yang terkena gangguan, susah untuk dirawat kerana, "makhluk" itu yang tak hendak, dirinya dan akal pemikirannya sudah dikuasai, melainkan ada ahli keluarga yang berkeras berusaha untuk merawat, atau pesakit ada keazaman yang tinggi untuk mendekatkan diri dengan Allah dan berusaha bersungguh-sungguh supaya dirinya kembali pulih, wallahu Alam.
INI ADALAH SIMPTOM-SIMPTOM SESEORANG ITU DIGANGGU JIN...
1) Sakit kepala selepas waktu asar ke atas.
2) Badan terasa berat dan malas.
3) Sukar mendapat jodoh.
4) Badan terasa bisa-bisa.
5) Sakit ketika ziarah orang meninggal.
6) Sukar tidur malam.
7) Sakit pinggang tanpa sebab.
8 ) Sakit dada bila waktu asar keatas.
9) Mimpi melihat binatang seperti ular dan sebagainya.
10) Bermimpi bayi atau menyusukan bayi.
11) Bermimpi di tempat tinggi.
12) Bermimpi di tempat yang kotor.
13) Sakit anggota badan tertentu seperti kaki selepas waktu asar.
14) Ada terasa benda bergerak dibawah kulit.
15) Bayi kerap menangis.
16) Bunyi guli jatuh diatas syiling.
17) Suami isteri kerap bertengkar walau perkara kecil.
18) Sayang melampau-lampau pada orang yang baru dikenali.
19) Malas beribadat.
20) Nyanyuk ketika usia lanjut.
21) Panas baran.
22) Sikap berubah secara mendadak.
23) Gelisah dan panas ditengkuk bila dengar al-quran.
24) Suka melakukan tabiat buruk.
25) Kerap sendawa bila mendengar al-quran.
26) Kerap keguguran.
27) Gagal melakukan hubungan kelamin.
28) Mengantuk bila dengar al-quran.
29) Bermimpi seram yang menakutkan.
30) Darah haid turun lebih 15 hari.
31) Batuk yang berpanjangan.
32) Selalu ditindih ketika tidur.
33) Kuat berangan.
34) Terlalu rasa rendah diri dan tidak berkeyakinan.
35) Nafsu seksual yang melampau.
36) Selalu melihat kelibat dirumah.
37) Terasa diri selalu diperhatikan.
38) Mandul.
39) Kerap mendengar sesuatu bisikan.
40) Melihat jin secara terus.
41) Sakit mental atau gila.
Setiap penyakit atau gangguan itu ada penawar atau ubatnya.
Tentulah seseorang itu perlu berusaha.
Kaedah perawatan juga banyak cara, kita tak kan tahu mana satu yang sesuai atau serasi dengan diri kita melainkan kita sudah mencubanya.
Biasanya....apabila Allah ingin menguji kita atau makhluk itu ingin menguasai kita, kaedah yang tepat itulah yang dirasakan tidak sesuai....jadi berlama-lamalah kita diuji, sebab itulah kita jangan tertipu dengan perasaan kita, apabila sudah diganggu perasaan sudah bercampur-baur, perlu ada orang lain yang menilai atau menasihati....(semua ini adalah dengan keizinan Allah swt)
Biasanya orang yang terkena gangguan, susah untuk dirawat kerana, "makhluk" itu yang tak hendak, dirinya dan akal pemikirannya sudah dikuasai, melainkan ada ahli keluarga yang berkeras berusaha untuk merawat, atau pesakit ada keazaman yang tinggi untuk mendekatkan diri dengan Allah dan berusaha bersungguh-sungguh supaya dirinya kembali pulih, wallahu Alam.
INI ADALAH SIMPTOM-SIMPTOM SESEORANG ITU DIGANGGU JIN...
1) Sakit kepala selepas waktu asar ke atas.
2) Badan terasa berat dan malas.
3) Sukar mendapat jodoh.
4) Badan terasa bisa-bisa.
5) Sakit ketika ziarah orang meninggal.
6) Sukar tidur malam.
7) Sakit pinggang tanpa sebab.
8 ) Sakit dada bila waktu asar keatas.
9) Mimpi melihat binatang seperti ular dan sebagainya.
10) Bermimpi bayi atau menyusukan bayi.
11) Bermimpi di tempat tinggi.
12) Bermimpi di tempat yang kotor.
13) Sakit anggota badan tertentu seperti kaki selepas waktu asar.
14) Ada terasa benda bergerak dibawah kulit.
15) Bayi kerap menangis.
16) Bunyi guli jatuh diatas syiling.
17) Suami isteri kerap bertengkar walau perkara kecil.
18) Sayang melampau-lampau pada orang yang baru dikenali.
19) Malas beribadat.
20) Nyanyuk ketika usia lanjut.
21) Panas baran.
22) Sikap berubah secara mendadak.
23) Gelisah dan panas ditengkuk bila dengar al-quran.
24) Suka melakukan tabiat buruk.
25) Kerap sendawa bila mendengar al-quran.
26) Kerap keguguran.
27) Gagal melakukan hubungan kelamin.
28) Mengantuk bila dengar al-quran.
29) Bermimpi seram yang menakutkan.
30) Darah haid turun lebih 15 hari.
31) Batuk yang berpanjangan.
32) Selalu ditindih ketika tidur.
33) Kuat berangan.
34) Terlalu rasa rendah diri dan tidak berkeyakinan.
35) Nafsu seksual yang melampau.
36) Selalu melihat kelibat dirumah.
37) Terasa diri selalu diperhatikan.
38) Mandul.
39) Kerap mendengar sesuatu bisikan.
40) Melihat jin secara terus.
41) Sakit mental atau gila.
Thursday, 7 June 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)